Tuhan
pun Tahu Jika Aku Rindu
(Cerpen karangan Nurbaiti H)
Ingatanku tertuju pada sebuah surat
kecil yang dipenuhi debu dan usang. Spontan aku teringat akan sesuatu yang
terjadi tepat pada tanggal 31 Januari 2012 yang lalu. Kusempatkan aku membaca
surat itu dan mencermati dengan penuh kesungguhan baris demi baris.Tulisan
tangan yang tidak asing bagiku. Sejenak aku memaknai dengan haru dan ada
kerinduan mendalam yang tersirat dalam
sanubari.
Semua sudah terjadi dan itu tidak akan
mungkin untuk kembali seperti sebelum dia mengenalnya yang pada akhirnya
menikahinya. Kini Ibuku tidak akan kembali dan Ayahku juga tidak akan sama
seperti dulu. Semua kebahagiaan serasa lenyap ditelan bumi bagai tak menyisakan
sedikit pun padaku dan saudaraku. Terlebih pada adik kecilku. Banyak kusimpan
perasaan kesal, marah dan perasaan ingin protes untuk membela ibuku. Namun itu
semua hanya khayalan, karena yang terjadi kini adalah ayahku sudah menikahinya.
Kedewasaan sifat sangat aku perlukan
untuk menyikapi permasalahan ini. Aku tidak ingin tampak lemah dihadapan
mereka. Aku sebagai anak ingin menunjukkan bahwa aku bisa merubah hidup menjadi
lebih baik dan memutar seratus delapan puluh derajat keadaan sekarang ini. Aku
hanya membutuhkan dorongan dan dukungan dari orang- orang terdekat untuk
melakukan itu.
Semua terasa begitu membuatku jera.
Ingin sekali aku meluapkannya kepada dunia bahwa aku marah. Teramat pedih yang
kurasakan sekarang ini setelah kepergian ibuku karena ayahku lebih memilihnya .
keegoisan memang dapat membuat manusia lupa akan kebahagian yang terlebih dulu
terukir.
“Tuhan,
beri aku kekuatan untuk mengubah keadaanku dan keluargaku”.
Sudah satu tahun aku tidak bersama
ibuku. Dia pergi untuk memperbaiki kondisi rumah tangga yang berantakan ini.
Disaat insiden kepergian ibuku itu, nenek dan kakek lah yang membantuku untuk
terus memotivasi agar aku bisa membalik semua keadaan. Hari- hariku serasa
hampa tanpa seorang ibu disisiku. Menaungi waktu tanpa amarah darinya ibarat berada
di hutan paling menyeramkan. Aku tidak tahan dengan semua ini. Berbagai cara ku
lakukan demi untuk sebuah kesenangan. Sekali pun aku tersenyum, itu hanya
sebuah senyuman yang harus aku perlihatkan pada semua orang yang menunjukkan
bahwa aku senang. Tapi tidak dengan keadaan hatiku yang sebenarnya, ini sangat
menyakitkan dan perlahan membuatku stres.
Beberapa bulan berlalu tanpa sedikit
pun kabar dari ibuku. Itu membuatku semakin merana. Terkadang aku juga malu
dengan takdir yang menimpaku jika ayahku sekarang mempunyai dua orang istri.
Sampai saat itu tiba yaitu saat dimana aku membutuhkan ibu untuk sebuah
pendaftaran masuk sekolah tingkat SLTA.
“Ibu belum kasih kabar, ya ?”.
“Belum
dek, paling masih sibuk penyesuaian disana. Maklum kalo jadi TKI itu kan nggak
boleh sembarangan musti hati- hati”.
“Iya
aku tahu itu. Tapi bagaimana dengan sekolahku ? tanggal 26 Juni besok ada
pendaftaran masuk SMA”.
“Oh,
yasudah kan kamu sudah bisa daftar sendiri. Nanti personal biaya kamu bilang
sama nenek”.
Memang, Ibuku menjadi TKI di Taiwan.
Semua biaya kehidupanku kini ditanggung oleh nenek. Dan terpaksa aku meminta
bantuan kepada ibu tiriku untuk menemaniku melakukan pendaftaran. Aku memilih
untuk mendaftar pada sekolah bonafit di daerahku. Sesungguhnya hal ini mendapat
pertentangan oleh nenekku. Beliau beranggapan bahwa beliau tidak akan mungkin
sanggup untuk membiayai sekolahku jika aku masuk pada SMA bonafit itu. Tapi aku
menentang permintaan nenekku. Karena aku sangat menginginkan untuk dapat masuk
di sekolah itu sedari dulu aku masih duduk dibangku SMP.
“Ndok, kamu memang serius ingin sekolah
disana ?”.
“Iya
nek, aku ingin sekali sekolah disana. Dari dulu aku sudah membuat target bahwa
aku harus bisa masuk SMA itu, makanya aku giat belajar agar aku dapat lolos tes
dan menjadi siswa disana”.
“Oh,
gitu tho ? ya sudah nggak usah sedih
gitu. Iya nenek akan menuruti kemauan kamu. Tapi dengan satu syarat kamu harus
janji sama nenek setelah kamu lolos tes dan sekolah disana, kamu harus
sungguh-sungguh nggak boleh main- main sekolahnya”.
“Bener
nek ? iya aku janji. Makasih banyak ya nek”.
Lega rasanya hati menerima semua ini aku beranggapan bahwa masa depan cerah mulai terukir didepan mataku. Kesenanganku teramat lengkap lagi setelah pada akhirnya aku dapat lolos tes dan masuk sebagai siswa di SMA itu. Sedikit beban yang hilang dari pundakku. Secercah harapan banyak singgah untuk menemani hari-hariku. Terlebih setelah aku mengenal sosok lelaki yang menarik bagiku. Laki-laki itu adalah yang kini menjadi pacarku. Aku mengenalnya lewat sebuah insiden tabrakan didepan kelas pada saat aku menghadapi UAS untuk tingkat SMP.Waktu itu, aku kesal sekali degan sikap dia yang acuh tak acuh terhadapku.
Lega rasanya hati menerima semua ini aku beranggapan bahwa masa depan cerah mulai terukir didepan mataku. Kesenanganku teramat lengkap lagi setelah pada akhirnya aku dapat lolos tes dan masuk sebagai siswa di SMA itu. Sedikit beban yang hilang dari pundakku. Secercah harapan banyak singgah untuk menemani hari-hariku. Terlebih setelah aku mengenal sosok lelaki yang menarik bagiku. Laki-laki itu adalah yang kini menjadi pacarku. Aku mengenalnya lewat sebuah insiden tabrakan didepan kelas pada saat aku menghadapi UAS untuk tingkat SMP.Waktu itu, aku kesal sekali degan sikap dia yang acuh tak acuh terhadapku.
“Maaf
kak, tadi itu nggak sengaja aku tabrak kakak, aku buru- buru mau mengambil
kartu ujianku di kantor karena kartu yang asli ketinggalan dirumah”.
Tak ada balasan yang keluar dari mulut
lelaki itu. Yang tampak olehnya adalah sikap sok cool yang membuatku sangat merasakan kesal dihati. Merasa tak
dibalas, aku pun langsung kembali bergegas untuk menyelesaikan UAS. Sambil berjalan
menuju ruang kelas aku terus mencerca lelaki itu.
“idih,
sok cool banget si dia itu. Emang sih
kakak kelas tapi jangan seenaknya gitu dong sama adik kelas. Mentang-mentang
dia kakak kelas terus kalo disapa sama adik kelas pura-pura nggak tahu gitu !”.
“hmm..
yaelah, udahlah nggak usah pusing. Kamu kan anak beranda nih bay, cari aja tuh
di facebook pasti ada. Namanya Yulvan Dana”.
“hidih
males amat nyari tahu tentang dia yang ada nanti malah dicuekin untuk kedua
kalinya”.
UAS dapat kulalui dengan baik. Entah
kenapa tiba-tiba perasaanku menyuruhku untuk cepat sampai dirumah membuka akun
facebookku dan kemudian mencari namanya. Ternyata benar, itu semua kulakukan.
Setelah aku tahu semua tentang dia lega hati ini karena aku hanya ingin sekedar
tahu profil tentang kakak kelas sok cool
itu.Namun, pernah dia ikut berkomentar disalah satu statusku dan pada saat itu
lah ada perasaan senang menggugah hatiku. Itu membuatku semakin sering untuk
membuka akun facebookku bahkan memaksaku untuk tetap always on pada akunku tersebut. Sampai suatu hari dia meminta nomor
teleponku lewat kotak masuk facebook.
“Pagi
dedek pinguin ?”.(akunku adalah pinguinnya beruangkutub dan aku sering
dipanggil dengan sebutan pinguin).
“Pagi
juga kak, ada apa pagi-pagi gini udah inbox aku ?”.
“hmm..
aku boleh minta nomor telepon dedek nggak ? biar bisa leluasa buat sms-an”.
“Oke
kak, ini 082371520751”.
Kalender di dinding kamarku terpampang
jelas bulan, tanggal dan harinya. Saat itu kulihat tangal 21 Juni 2012. Seperti
biasa aktifitas yang kulakukan hanya stand
by di facebook karena bulan ini adalah bulan libur bagi anak-anak SMP yang
baru mengikuti UN. Pagi hari tidak ada komentar dan sms dari kakak sok cool itu.
Pada malam hari suasana terasa agak
sedikit berubah. Dia menelfonku hingga larut malam dan pada saat jam dinding ku
lihat, disana sedang menunjukkan pukul 11.45 dan dia mengatakan sesuatu padaku.
Itu membuatku hampir tersedak roti keju yang sedang kumakan.
“kamu
masih ngapain malam-malam begini dek ?”.
“masih
nonton Tv kak sambil makan roti”.
“Oh..
iya, kakak mau ngomong sesuatu tapi dedek jangan marah ya ?”.
“Apa
itu kak ?”.
“Kakak
itu sayang banget sama dedek, jadi bisa nggak dedek ini jadi pacar kakak ?”.
Waktu seakan berhenti sejenak
memberiku menit demi menit untuk memberikan jawaban langsung kepadanya dimalam
jum’at ini.
“Iya
sudah deh kak.. kita coba dulu untuk menjalaninya”.
Kudengar ada gelak tawa kesenangan
dari dirinya. Itu terdengar jelas dan tergambar sangat jelas dari caranya yang
mendadak grogi pada kata-kataku yang baru saja kuucapkan untuknya. Dan selama
Sembilan bulan kemarin ini aku menjalin hubungan dengannya sebagai pasangan
kekasih. Berkatnya hidupku seolah lahir kembali sebagai anak yang mempunyai
banyak kasih sayang biarpun itu tidak kudapatkan dari ibuku.
Masih pada permasalahanku yang awal
yaitu kasus tentang keluargaku. Sekarang Ibuku sering memberi kabar lewat surat
bahkan hampir sering melalui komunikasi telepon. Aku sangat senang sekali
dengan jalan hidupku sekarang.
Semangatku kembali memupuk jiwa yang hilang. Semua semangat dan bayangan akan
sukses begitu dekat dengan batas realita hidupku.Kini semua perasaan kembali
pada titik awal. Aku mempunyai seseorang yang bisa terus dan selalu memberiku
sebuah motivasi dukungan untuk menjadi baik.Semua rasa, perasaan dan rindu
ibuku tercurah pada syair lagu milik wali ‘Doa untukmu sayang’.
Satu pinta yang belum lama terucap
dari ibuku, yaitu
“Teruslah
berjuang dan selalu menjadi kebanggaan ibu. Doa ibu untukmu, sayang”.
TAMAT

Tidak ada komentar:
Posting Komentar