Jumat, 22 Maret 2013

Tuhan pun Tahu Jika Aku Rindu


Tuhan pun Tahu Jika Aku Rindu
(Cerpen karangan Nurbaiti H)

          Ingatanku tertuju pada sebuah surat kecil yang dipenuhi debu dan usang. Spontan aku teringat akan sesuatu yang terjadi tepat pada tanggal 31 Januari 2012 yang lalu. Kusempatkan aku membaca surat itu dan mencermati dengan penuh kesungguhan baris demi baris.Tulisan tangan yang tidak asing bagiku. Sejenak aku memaknai dengan haru dan ada kerinduan  mendalam yang tersirat dalam sanubari.
          Semua sudah terjadi dan itu tidak akan mungkin untuk kembali seperti sebelum dia mengenalnya yang pada akhirnya menikahinya. Kini Ibuku tidak akan kembali dan Ayahku juga tidak akan sama seperti dulu. Semua kebahagiaan serasa lenyap ditelan bumi bagai tak menyisakan sedikit pun padaku dan saudaraku. Terlebih pada adik kecilku. Banyak kusimpan perasaan kesal, marah dan perasaan ingin protes untuk membela ibuku. Namun itu semua hanya khayalan, karena yang terjadi kini adalah ayahku sudah menikahinya.
          Kedewasaan sifat sangat aku perlukan untuk menyikapi permasalahan ini. Aku tidak ingin tampak lemah dihadapan mereka. Aku sebagai anak ingin menunjukkan bahwa aku bisa merubah hidup menjadi lebih baik dan memutar seratus delapan puluh derajat keadaan sekarang ini. Aku hanya membutuhkan dorongan dan dukungan dari orang- orang terdekat untuk melakukan itu.
          Semua terasa begitu membuatku jera. Ingin sekali aku meluapkannya kepada dunia bahwa aku marah. Teramat pedih yang kurasakan sekarang ini setelah kepergian ibuku karena ayahku lebih memilihnya . keegoisan memang dapat membuat manusia lupa akan kebahagian yang terlebih dulu terukir.
“Tuhan, beri aku kekuatan untuk mengubah keadaanku dan keluargaku”.
          Sudah satu tahun aku tidak bersama ibuku. Dia pergi untuk memperbaiki kondisi rumah tangga yang berantakan ini. Disaat insiden kepergian ibuku itu, nenek dan kakek lah yang membantuku untuk terus memotivasi agar aku bisa membalik semua keadaan. Hari- hariku serasa hampa tanpa seorang ibu disisiku. Menaungi waktu tanpa amarah darinya ibarat berada di hutan paling menyeramkan. Aku tidak tahan dengan semua ini. Berbagai cara ku lakukan demi untuk sebuah kesenangan. Sekali pun aku tersenyum, itu hanya sebuah senyuman yang harus aku perlihatkan pada semua orang yang menunjukkan bahwa aku senang. Tapi tidak dengan keadaan hatiku yang sebenarnya, ini sangat menyakitkan dan perlahan membuatku stres.
          Beberapa bulan berlalu tanpa sedikit pun kabar dari ibuku. Itu membuatku semakin merana. Terkadang aku juga malu dengan takdir yang menimpaku jika ayahku sekarang mempunyai dua orang istri. Sampai saat itu tiba yaitu saat dimana aku membutuhkan ibu untuk sebuah pendaftaran masuk sekolah tingkat SLTA.

“Ibu belum kasih kabar, ya ?”.
“Belum dek, paling masih sibuk penyesuaian disana. Maklum kalo jadi TKI itu kan nggak boleh sembarangan musti hati- hati”.
“Iya aku tahu itu. Tapi bagaimana dengan sekolahku ? tanggal 26 Juni besok ada pendaftaran masuk SMA”.
“Oh, yasudah kan kamu sudah bisa daftar sendiri. Nanti personal biaya kamu bilang sama nenek”.
          Memang, Ibuku menjadi TKI di Taiwan. Semua biaya kehidupanku kini ditanggung oleh nenek. Dan terpaksa aku meminta bantuan kepada ibu tiriku untuk menemaniku melakukan pendaftaran. Aku memilih untuk mendaftar pada sekolah bonafit di daerahku. Sesungguhnya hal ini mendapat pertentangan oleh nenekku. Beliau beranggapan bahwa beliau tidak akan mungkin sanggup untuk membiayai sekolahku jika aku masuk pada SMA bonafit itu. Tapi aku menentang permintaan nenekku. Karena aku sangat menginginkan untuk dapat masuk di sekolah itu sedari dulu aku masih duduk dibangku SMP.
Ndok, kamu memang serius ingin sekolah disana ?”.
“Iya nek, aku ingin sekali sekolah disana. Dari dulu aku sudah membuat target bahwa aku harus bisa masuk SMA itu, makanya aku giat belajar agar aku dapat lolos tes dan menjadi siswa disana”.
“Oh, gitu tho ? ya sudah nggak usah sedih gitu. Iya nenek akan menuruti kemauan kamu. Tapi dengan satu syarat kamu harus janji sama nenek setelah kamu lolos tes dan sekolah disana, kamu harus sungguh-sungguh nggak boleh main- main sekolahnya”.
“Bener nek ? iya aku janji. Makasih banyak ya nek”.

          Lega rasanya hati menerima semua ini aku beranggapan bahwa masa depan cerah mulai terukir didepan mataku. Kesenanganku teramat lengkap lagi setelah pada akhirnya aku dapat lolos tes dan masuk sebagai siswa di SMA itu. Sedikit beban yang hilang dari pundakku. Secercah harapan banyak singgah untuk menemani hari-hariku. Terlebih setelah aku mengenal sosok lelaki yang menarik bagiku. Laki-laki itu adalah yang kini menjadi pacarku. Aku mengenalnya lewat sebuah insiden tabrakan didepan kelas pada saat aku menghadapi UAS untuk tingkat SMP.Waktu itu, aku kesal sekali degan sikap dia yang acuh tak acuh terhadapku.
“Maaf kak, tadi itu nggak sengaja aku tabrak kakak, aku buru- buru mau mengambil kartu ujianku di kantor karena kartu yang asli ketinggalan dirumah”.
          Tak ada balasan yang keluar dari mulut lelaki itu. Yang tampak olehnya adalah sikap sok cool yang membuatku sangat merasakan kesal dihati. Merasa tak dibalas, aku pun langsung kembali bergegas untuk menyelesaikan UAS. Sambil berjalan menuju ruang kelas aku terus mencerca lelaki itu.
“idih, sok cool banget si dia itu. Emang sih kakak kelas tapi jangan seenaknya gitu dong sama adik kelas. Mentang-mentang dia kakak kelas terus kalo disapa sama adik kelas pura-pura nggak tahu gitu !”.
“hmm.. yaelah, udahlah nggak usah pusing. Kamu kan anak beranda nih bay, cari aja tuh di facebook pasti ada. Namanya Yulvan Dana”.
“hidih males amat nyari tahu tentang dia yang ada nanti malah dicuekin untuk kedua kalinya”.
          UAS dapat kulalui dengan baik. Entah kenapa tiba-tiba perasaanku menyuruhku untuk cepat sampai dirumah membuka akun facebookku dan kemudian mencari namanya. Ternyata benar, itu semua kulakukan. Setelah aku tahu semua tentang dia lega hati ini karena aku hanya ingin sekedar tahu profil tentang kakak kelas sok cool itu.Namun, pernah dia ikut berkomentar disalah satu statusku dan pada saat itu lah ada perasaan senang menggugah hatiku. Itu membuatku semakin sering untuk membuka akun facebookku bahkan memaksaku untuk tetap always on pada akunku tersebut. Sampai suatu hari dia meminta nomor teleponku lewat kotak masuk facebook.
“Pagi dedek pinguin ?”.(akunku adalah pinguinnya beruangkutub dan aku sering dipanggil dengan sebutan pinguin).
“Pagi juga kak, ada apa pagi-pagi gini udah inbox aku ?”.
“hmm.. aku boleh minta nomor telepon dedek nggak ? biar bisa leluasa buat sms-an”.
“Oke kak, ini 082371520751”.
          Kalender di dinding kamarku terpampang jelas bulan, tanggal dan harinya. Saat itu kulihat tangal 21 Juni 2012. Seperti biasa aktifitas yang kulakukan hanya stand by di facebook karena bulan ini adalah bulan libur bagi anak-anak SMP yang baru mengikuti UN. Pagi hari tidak ada komentar dan sms dari kakak sok cool itu.
          Pada malam hari suasana terasa agak sedikit berubah. Dia menelfonku hingga larut malam dan pada saat jam dinding ku lihat, disana sedang menunjukkan pukul 11.45 dan dia mengatakan sesuatu padaku. Itu membuatku hampir tersedak roti keju yang sedang kumakan.
“kamu masih ngapain malam-malam begini dek ?”.
“masih nonton Tv kak sambil makan roti”.
“Oh.. iya, kakak mau ngomong sesuatu tapi dedek jangan marah ya ?”.
“Apa itu kak ?”.
“Kakak itu sayang banget sama dedek, jadi bisa nggak dedek ini jadi pacar kakak ?”.
          Waktu seakan berhenti sejenak memberiku menit demi menit untuk memberikan jawaban langsung kepadanya dimalam jum’at ini.
“Iya sudah deh kak.. kita coba dulu untuk menjalaninya”.
          Kudengar ada gelak tawa kesenangan dari dirinya. Itu terdengar jelas dan tergambar sangat jelas dari caranya yang mendadak grogi pada kata-kataku yang baru saja kuucapkan untuknya. Dan selama Sembilan bulan kemarin ini aku menjalin hubungan dengannya sebagai pasangan kekasih. Berkatnya hidupku seolah lahir kembali sebagai anak yang mempunyai banyak kasih sayang biarpun itu tidak kudapatkan dari ibuku.
          Masih pada permasalahanku yang awal yaitu kasus tentang keluargaku. Sekarang Ibuku sering memberi kabar lewat surat bahkan hampir sering melalui komunikasi telepon. Aku sangat senang sekali dengan  jalan hidupku sekarang. Semangatku kembali memupuk jiwa yang hilang. Semua semangat dan bayangan akan sukses begitu dekat dengan batas realita hidupku.Kini semua perasaan kembali pada titik awal. Aku mempunyai seseorang yang bisa terus dan selalu memberiku sebuah motivasi dukungan untuk menjadi baik.Semua rasa, perasaan dan rindu ibuku tercurah pada syair lagu milik wali ‘Doa untukmu sayang’.
          Satu pinta yang belum lama terucap dari ibuku, yaitu
“Teruslah berjuang dan selalu menjadi kebanggaan ibu. Doa ibu untukmu, sayang”.
TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar