Untuk Sebutir
Takdir Kecil
(cerpen karangan Nurbaiti H)
Masa
lalu itu membuatku seolah tak mengerti dengan keadaan yang sebenarnya terjadi
kini kepadaku. Menatap langit disekelilingku gelap, segelap akan bayangan masa
laluku yang sedang melintas mencoba meracuni hati dan pikiranku. Dinginnya angin
malam yang membelai lembut jemari tangan dan kakiku seolah merespon apa yang
sedang terjadi padaku. Tubuh ini kaku, ibarat didalam bongkahan es, hanya kedinginan sifat dan perasaan yang
menggantung di ambang batas bayangan akan masa lalu itu. Aku tak yakin, jika
semua ini nyata,tapi aku harus yakin karena ini nyata. Masih teringat jelas
kata-katanya di benakku. Kata-kata yang dia ucapkan selama empat puluh Sembilan
menit yang lalu.
“ah. Alangkah pusing aku dibuatnya!”.
Aku
mencoba bertanya pada diriku sendiri, apakah aku ini terlalu naïf untuk
mengulang masa lalu yang kata orang itu mustahil ? hanya kesunyian yang
menjawab. Aku tak mungkin menghapus semua kisah tentangnya.Namun, disisi lain
aku malu dengan deretan foto-foto yang aku tata sendiri. Mereka seolah
memancarkan wajah sedih dan kekecewaannya padaku. Tapi aku tak akan mungkin
bisa melupakan masa lalu itu.
“Bisakah kamu mengulang masa lalu kita
dulu? Aku harap kamu bisa. Karena aku yakin cuma kamu yang bisa merubah hidup
ini”.
“Sorry, aku nggak bisa. Aku mungkin hanya
bisa mengenangmu dan hanya sebatas semata-mata mengenang”.
“Ayolah, kita bisa”.
Minuman
itu membuatnya semakin melanturkan pembicaraan. Ini membuatku semakin bingung
untuk menjawab semua perkataannya. Dia terus bercerita kepadaku tentang
bagaimana besar dan tulusnya perasaannya padaku. Padahal harusnya kami tidak
membicarakan ini.Awalnya saja sebagai pembuka baginya.
“Bisakah kamu menempatkanku di hatimu ?
walau tidak seperti cintamu, tapi aku hanya ingin ada di hatimu”.
“Maaf, aku tetap tidak bisa”.
“Oke, jadi kamu sudah lupa akan masa lalu
itu ? aku gak nyangka semudah itu kamu lupa. Bagi aku, ngelupain kamu begitu
susah!”.
“Dari awal aku sudah bilang, itu hanya
masa lalu belaka, jadi wajar lah kalau aku coba buat ngelupain itu. Aku ingin
lebih baik dari masa lalu itu”.
Perkataanku
seperti tidak menembus kesadarannya akan realita yang sekarang terjadi padanya.
Ini semua seperti ribuan burung berkicau,sangat kacau. Hal ini membuatku cukup
bingung dan sama sekali tidak mengerti. Haruskah aku menghidupkan masa lalu itu
?. Aku butuh petunjuk untuk menghadapi ini dan mencari jalan keluar. Aku tidak
ingin masa lalu itu terus bersamaku. Mungkin hanya niscaya Tuhan yang dapat
merubahnya seperti dulu. Dalam benakku hanya ada ukiran namanya, akan tetapi
tidak untuk cinta.Karena cintaku sudah milik orang lain yang kini bersamaku.
Mencoba
bertanya pada bintang malam yang mempunyai sinar paling terang di ufuk barat.
Namun, sama seperti yang lain hanya kesunyian yang kutemukan. Tidak satupun
petunjuk atau jalan keluar yang kutemui. Semua seolah tidak menunjukkan sarannya
kepadaku. Mereka semua hanya menjadi saksi bisu ketika dia berbicara itu.
Disaat seperti ini, yang aku harapkan adalah Tuhan mau mendengarkan curahan
hatiku. Tidak mungkin aku ingin menyakiti kekasih sendiri demi masa lalu yang
seharusnya berlalu dan musnah. Semua terasa egois dimana tidak satupun orang
mengetahui apa yang sebenarnya hati kecilku ini rasakan. Hanya wajah murung,
kesepian didalam kamarku, kesunyian tiap malam hari yang menemani saat-saat
dimana dia datang.
Tidak
mungkin aku menyalahkan alam karena alam tidak salah, dia hanya melakonkan
takdir yang telah berskenario. Disisi lain, aku iri dengan alam, mengapa harus
alam yang melakonkan takdir ? kenapa tidak sesekali aku yang melakonkan dan
alam yang menerima ? sungguh kebingungan ini begitu menjerat seluruh bagian
rongga di otakku.
“Mungkin memang aku harus melupakan masa
lalu itu dan mencatat sejarah baru yang nantinya akan menjadi masa lalu yang
indah untukku”.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar