Jumat, 22 Maret 2013

cerpen masa lalu



Untuk Sebutir Takdir Kecil
(cerpen karangan Nurbaiti H)

          Masa lalu itu membuatku seolah tak mengerti dengan keadaan yang sebenarnya terjadi kini kepadaku. Menatap langit disekelilingku gelap, segelap akan bayangan masa laluku yang  sedang melintas mencoba  meracuni hati dan pikiranku. Dinginnya angin malam yang membelai lembut jemari tangan dan kakiku seolah merespon apa yang sedang terjadi padaku. Tubuh ini kaku, ibarat didalam bongkahan  es, hanya kedinginan sifat dan perasaan yang menggantung di ambang batas bayangan akan masa lalu itu. Aku tak yakin, jika semua ini nyata,tapi aku harus yakin karena ini nyata. Masih teringat jelas kata-katanya di benakku. Kata-kata yang dia ucapkan selama empat puluh Sembilan menit yang lalu.
“ah. Alangkah pusing aku dibuatnya!”.
          Aku mencoba bertanya pada diriku sendiri, apakah aku ini terlalu naïf untuk mengulang masa lalu yang kata orang itu mustahil ? hanya kesunyian yang menjawab. Aku tak mungkin menghapus semua kisah tentangnya.Namun, disisi lain aku malu dengan deretan foto-foto yang aku tata sendiri. Mereka seolah memancarkan wajah sedih dan kekecewaannya padaku. Tapi aku tak akan mungkin bisa melupakan masa lalu itu.
“Bisakah kamu mengulang masa lalu kita dulu? Aku harap kamu bisa. Karena aku yakin cuma kamu yang bisa merubah hidup ini”.
“Sorry, aku nggak bisa. Aku mungkin hanya bisa mengenangmu dan hanya sebatas semata-mata mengenang”.
“Ayolah, kita bisa”.
          Minuman itu membuatnya semakin melanturkan pembicaraan. Ini membuatku semakin bingung untuk menjawab semua perkataannya. Dia terus bercerita kepadaku tentang bagaimana besar dan tulusnya perasaannya padaku. Padahal harusnya kami tidak membicarakan ini.Awalnya saja sebagai pembuka baginya.
“Bisakah kamu menempatkanku di hatimu ? walau tidak seperti cintamu, tapi aku hanya ingin ada di hatimu”.
“Maaf, aku tetap tidak bisa”.
“Oke, jadi kamu sudah lupa akan masa lalu itu ? aku gak nyangka semudah itu kamu lupa. Bagi aku, ngelupain kamu begitu susah!”.
“Dari awal aku sudah bilang, itu hanya masa lalu belaka, jadi wajar lah kalau aku coba buat ngelupain itu. Aku ingin lebih baik dari masa lalu itu”.
          Perkataanku seperti tidak menembus kesadarannya akan realita yang sekarang terjadi padanya. Ini semua seperti ribuan burung berkicau,sangat kacau. Hal ini membuatku cukup bingung dan sama sekali tidak mengerti. Haruskah aku menghidupkan masa lalu itu ?. Aku butuh petunjuk untuk menghadapi ini dan mencari jalan keluar. Aku tidak ingin masa lalu itu terus bersamaku. Mungkin hanya niscaya Tuhan yang dapat merubahnya seperti dulu. Dalam benakku hanya ada ukiran namanya, akan tetapi tidak untuk cinta.Karena cintaku sudah milik orang lain yang kini bersamaku.
          Mencoba bertanya pada bintang malam yang mempunyai sinar paling terang di ufuk barat. Namun, sama seperti yang lain hanya kesunyian yang kutemukan. Tidak satupun petunjuk atau jalan keluar yang kutemui. Semua seolah tidak menunjukkan sarannya kepadaku. Mereka semua hanya menjadi saksi bisu ketika dia berbicara itu. Disaat seperti ini, yang aku harapkan adalah Tuhan mau mendengarkan curahan hatiku. Tidak mungkin aku ingin menyakiti kekasih sendiri demi masa lalu yang seharusnya berlalu dan musnah. Semua terasa egois dimana tidak satupun orang mengetahui apa yang sebenarnya hati kecilku ini rasakan. Hanya wajah murung, kesepian didalam kamarku, kesunyian tiap malam hari yang menemani saat-saat dimana dia datang.
          Tidak mungkin aku menyalahkan alam karena alam tidak salah, dia hanya melakonkan takdir yang telah berskenario. Disisi lain, aku iri dengan alam, mengapa harus alam yang melakonkan takdir ? kenapa tidak sesekali aku yang melakonkan dan alam yang menerima ? sungguh kebingungan ini begitu menjerat seluruh bagian rongga di otakku.
“Mungkin memang aku harus melupakan masa lalu itu dan mencatat sejarah baru yang nantinya akan menjadi masa lalu yang indah untukku”.
TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar