Ku Ingin Cinta Membalut Mautku
Hati
yang teramat sakit membawa sikapnya yang berujung pada dua titik antara benar
dan salah. Valen adalah seorang siswi teladan disekolahnya yang sangat suka
membaca buku. Dia mencintai seseorang tapi disisi lain orang yang dicintainya itu
tidak mengetahui akan hal ini. Sungguh sakit yang teramat mendalam di hati
Valen. Selama ini ia beranggapan bahwa Vino akan benar- benar menerima perasaan
cinta darinya.
Siang
itu koridor sekolah terlihat sepi. Tidak banyak siswa yang berlalu lalang
disana. Hanya ada satu orang wanita yang sedang berjalan dengan membawa
setumpuk buku ditangannya. Ketika Valen sedang melewati sebuah ruangan musik
tanpa sengaja ia melihat Vino berada disana. Vino adalah lelaki yang cukup
populer dikalangan para wanita. Gayanya yang kasual membuat semua wanita
terpesona. Rambut ala penyanyi korea yang ada padanya selalu membuat wanita
menyukainya.
Perasaan
Valen terhadap lelaki itu tidak pernah hilang. Dia terus mencintai dan terus
berusaha agar Vino menyukainya. Berbagai cara dilakukan oleh Valen. Sampai ia
mendapat teguran dari para sahabatnya. Mungkin terlalu bersifat melebihkan
realita yang terjadi. Dia terpaksa menjatuhkan semua buku yang ada di tangannya
dengan maksud agar Vino melihatnya. Usaha tersebut berhasil mencuri perhatian
Vino yang sedang berkonsentrasi pada gitarnya.
“Braakk..”. Suara buku berhamburan dilantai depan
ruangan musik.
Mendadak
mata Vino yang sedang tertuju pada senar- senar gitar itu beralih pada wanita
yang sedang sibuk untuk membereskan buku- buku yang berserakan dilantai. Dengan
langkah tenang Vino menghampiri Valen.
“Lo Valen kan ? yang waktu itu pernah gue kasih
kado valentine”. Tanya Vino dengan ragu-ragu kepada Valen.
“Iya, lo masih inget juga kalo waktu itu lo juga
udah nyakitin gue ?”.
Memang
dulu sempat terjadi insiden di acara valentine yang diadakan disekolah untuk
sekaligus sebagai peringatan hari ulang tahun sekolah. Malam itu Vino
memberikan kado valentine kepada Valen dan itu ternyata membuat perasaan yang
dialaminya semakin tergambar jelas bahwa Vino pasti menyukainya. Namun, tiba-
tiba datang Dina menghampiri mereka sembari merangkul bahu Vino. Ternyata Dina
kekasih Vino.
“Valen, gue mau ngasih ini ke elo “. Kata Vino
sambil mengulurkan sebuah bingkisan kotak kecil berwarna pink dengan disertai
bunga mawar disampingnya.
“O ohh..Ini buat gue ?”. Jawab Valen dengan gugup
karena memang dia tidak menyangka Vino akan memberinya kado spesial valentine.
“Iya, ini khusus buat elo”. Ujar Vino tapi
tiba-tiba Dina datang dan mengacaukan semuanya. Sambil merangkul bahu Vino,
Dina berkata
“Hai sayang kenapa kamu ada disini ? nggak
seharusnya kita itu ada disini. Lebih baik kita menikmati makan malam disana
bersama mereka”. Kata Dina sembari mengajak paksa Vino untuk melangkah bersamanya
menuju meja makan.
Ini
sebenarnya berbeda sekali dengan perasaan Vino yang sesungguhnya. Dia tidak
mencintai wanita itu dengan sepenuh hati. Dia hanya terpaksa untuk mencintai
dan menjalin cinta dengannya karena ini akibat ulah kedua orang tua Vino yang
sepakat dengan Dina. Hal ini tentu saja menyiksa batin dan perasaan Vino.
Sampai pada akhirnya dia divonis oleh dokter mengidap penyakit leukemia. Itu
merupakan sebuah penyakit yang menyerang bagian sel sel darah merahnya.
Sebenarnya
sejak pertama dia memberi kado spesial valentine itu kepada Valen, dia sudah
mulai merasakan ada cinta dihatinya. Namun, apa daya dia tidak bisa
mengungkapkan perasaanya itu kepada Valen karena dia menyadari ada Dina
disisinya. Memang sangat rumit dinamika cinta yang sedang melanda hidupnya itu.
Sel sel kanker yang sekarang singgah di tubuhnya itu semakin hari kian semakin
memaksa sel darah merahnya menghilang. Dia sadar jika suatu saatnya nanti tiba
dia tidak mungkin bisa memberi tahu bahwa dia mencintai Valen. Kebingungan akan
perasaan cinta segitiga ini membuat kondisinya semakin buruk.
“Gue nggak boleh nyerah seperti ini, Valen harus
ngerti kalo sebenernya gue suka sama dia”.
Waktu
pun terus berjalan hingga pada suatu hari tiba yaitu saat dimana diadakannya sebuah
pentas seni disekolah. Di acara itu Vino berusaha untuk menyampaikan isi
hatinya melalui sebuah lagu yang ia nyanyikan setelah sekumpulan grub band
sekolahnya itu tampil dan mengisi hiburan dengan berbagai musik dan lagu
mereka. Syair lagu tersebut tercipta disaat dia sedang meratapi kebingungannya.
Mengisahkan kisah cintanya kepada seseorang yang sangat sulit untuk
disampaikan. Terinspirasi dari si kutu buku yang menganggapnya bak pangeran
impiannya itu. Sepenggal syairnya seperti ini,
Dengarkan
isi hatiku yang memanggil jiwamu
Mencoba
terus bertahan dalam sebuah pilihan
Namun
aku tak bisa jika kau harus tahu
Sungguh
tersiksa bagai perih menusuk batinku
Disaat
alunan gitar yang mengiringi suara merdu Vino dan jemarinya yang terus bermain
lincah dengan senar- senar gitarnya itu dia mencuri sebuah pandangan dari
Valen. Akan tetapi wanita tersebut tidak sampai pengetahuannya pada apa yang
dimaksud olehnya. Yang tertangkap oleh wanita tersebut adalah bahwa lagu yang
dibawakan pangeran impiannya itu indah. Memang sangat rumit jika dibayangkan
dengan akal sehat. Sungguh perasaan cinta segitiga yang membingungkan. Tidak
tahu satu sama lain.
Jam
sudah berganti hari. Tak ada lagi suara indah milik Vino. Tak ada juga
pandangan mata mempesona darinya. Sekarang hanya ada sebuah kenangan akan hal
itu. Pagi ini suasana sekolah
tampak sepi. Hal ini sangat dirasakan oleh Valen yang sedari tadi dia tidak
melihat adanya tanda- tanda keberadaan Vino. Hingga akhirnya hari ini dia tidak
melalui sesuatu yang biasa dia lakukan yaitu mengintai pangeran impiannya itu.
Ada wajah murung terlukis di sana. Tidak sedikit pun perasaan riang seperti
halnya ketika Vino sedang berada di ruang musik seperti biasanya. Vino memang
sangat menyukai tempat itu. Entah atas dasar alasan apa sehingga dia begitu
sangat menyukai ruangan itu dan memilihnya sebagai tempat favorit untuk berdiam
diri.
Tak terasa
sudah satu pekan waktu yang berlalu. Kini tampak lagi pangeran impiannya itu di
ruangan musik seperti biasanya. Ini membuat hati Valen sangat gembira dan
membuatnya seolah kembali dengan segala sesuatu yang dapat membuat semangat
hidupnya tumbuh. Namun, ketika dia merasa acara mengintainya itu diketahui oleh
Vino, dia mencoba untuk menghindar. Ternyata Vino lebih cepat datang dan telah
menangkap basah perilaku Valen tersebut.
“Eh, itu anu mm… gue barusan aja keruang guru
terus … “. Belum sempat Valen melanjutkan kata- katanya yang kemudian dipotong
oleh Vino.
“Ciyyee.. ketauan kan sekarang kalo lo sering
ngintipin gue. Hmm.. kalo lo pengen main musik sama gue, nggak usah deh pake
acara ngintip segala. Emang gue maling yang perlu diintai ?”. Cetus Vino dengan
perasaan senang karena ternyata dibelakangnya Valen selalu memperhatikan
sikapnya.
“Emm.. enggak kok. Ih siapa juga yang perhatiin
elo, Ge-er amat “. Timpal Valen karena tidak mau semua perasaannya itu
terbongkar.
“Hahahaa…. “.
Hanya
ada gelak tawa dari Vino. Ini hampir terlihat seperti sebuah perasaan yang
meluap. Tergambar dengan sangat jelas diwajah Vino ada sepucuk kebahagiaan
terpancar disana. Bahkan Valen pun tak tahu berapa lama lagi dia dapat memendam
perasaan itu kepada Vino.
Siang
ini, sekolah tampak masih sangat ramai tidak seperti biasanya dikarenakan
adanya sebuah pertandingan yang rutin diadakan disekolah yaitu pertandingan
basket antar kelas. Valen terpaksa tidak pergi untuk meninggalkan sekolah
karena kali ini kelasnya yang akan bertanding.
“Huh.. kenapa nggak boleh pulang ? padahal banyak
tugas yang musti gue selesaikan malam ini”. Umpat Valen dalam hati karena
memang jadwal tugasnya yang padat.
Pertandingan
terasa sangat membosankan bagi Valen. Dipikirannya dia hanya ingin pulang
pulang dan pulang. Dia tidak sama sekali memperhatikan bagaimana jalan dan alur
pertandingan tersebut. Pertandingan pun berakhir dengan sebuah tembakan yang
bagus. Semua anak bersorak sorai karena kali ini kelas Valen yang menjadi
pemenangnya. Namun, lain halnya dengan Valen, dia hanya tetap pada posisinya
diam dan memasang wajah cuek. Akan tetapi, sebuah insiden terjadi di akhir
pertandingan itu. Dimana seorang pemain basket tadi datang menghampiri Valen.
Seluruh perhatian tertuju sepenuhnya pada mereka berdua. Ternyata, sebelum
bertanding Roy telah membuat kesepakatan dengan Tio sebagai lawan mainnya itu.
Mereka berdua sama- sama menyukai Valen. Jadi, mereka memutuskan untuk
menyelesaikan konflik mereka lewat sebuah pertandingan basket. Sehingga
sekarang Roy lah yang berhasil memenangkannya.
Dengan
raut wajah yang sangat gembira, Roy datang melangkahkan kakinya menuju tempat
dimana Valen berada. Saat itu Valen sedang duduk diam. Kemudian dia berdiri
tepat disamping Valen dan berusaha mengumumkan sebuah pemberitahuan kepada
semua orang yang saat itu ada disana.
“Hai, guys sesuai perjanjian sekarang gue lah yang
berhak untuk jadi pacar Valen”. Seru Roy dengan suara lantang sembari memegang
tangan Valen dan akan mencoba untuk menciumnya.
Secara
tiba- tiba Valen menarik dengan kasar tangannya tersebut. Dia seketika marah
karena memang dia tidak tahu menahu tentang semua perjanjian ini.
“Nggak usah ngaco ya ! “. Bentak Valen seakan-
akan dia sudah tidak peduli lagi terhadap semua mata yang tertuju pada dirinya.
“Ayolah Valen, elo nggak usah berpura-pura seperti
elo nggak tahu semua ini “. Kata Roy terus mencoba meyakinkan Valen.
“Memang gue gak pernah tahu akan perjanjian busuk
lo ini !”. Balas Valen yang kemudian mencoba untuk beralih dari tempat itu.
Namun,dengan
cepat Roy meraih tangan Valen dan menggenggamnya erat- erat sehingga membuat
Valen kesakitan dan tidak bisa melepaskannya. Valen terus mencoba untuk
melepaskan genggaman Roy ditangannya itu. Tiba-tiba ada sebuah bola yang
terlempar tepat mengenai kepala Roy. Dan itu bola dari Vino.
“Hey, boy jangan seenaknya elo nyakitin perempuan
“.
“Masa bodoh dengan ucapan elo barusan ! peduli apa
elo itu? “.
Dengan
langkah cepat Vino yang berada disudut kursi tempat dimana Valen dan Roy berada
,menghampiri mereka berdua. Suasana menjadi agak tegang. Semua mata yang
memandang sedikit melukiskan kekhawatirannya akan apa yang akan terjadi
berikutnya.
“Valen itu pacar gue”. Bisik Vino ditelinga Roy.
Kemudian
diraihnya tangan Valen dan membawanya pergi dari tempat itu. Valen hanya
terdiam tidak bisa membayangkan apa ini benar- benar terjadi didalam
kehidupannya.
TO BE CONTINUE
Tidak ada komentar:
Posting Komentar