Kamis, 28 Maret 2013

Cerpen tentang cinta



Ku Ingin Cinta Membalut Mautku


          Hati yang teramat sakit membawa sikapnya yang berujung pada dua titik antara benar dan salah. Valen adalah seorang siswi teladan disekolahnya yang sangat suka membaca buku. Dia mencintai seseorang  tapi disisi lain orang yang dicintainya itu tidak mengetahui akan hal ini. Sungguh sakit yang teramat mendalam di hati Valen. Selama ini ia beranggapan bahwa Vino akan benar- benar menerima perasaan cinta darinya.
          Siang itu koridor sekolah terlihat sepi. Tidak banyak siswa yang berlalu lalang disana. Hanya ada satu orang wanita yang sedang berjalan dengan membawa setumpuk buku ditangannya. Ketika Valen sedang melewati sebuah ruangan musik tanpa sengaja ia melihat Vino berada disana. Vino adalah lelaki yang cukup populer dikalangan para wanita. Gayanya yang kasual membuat semua wanita terpesona. Rambut ala penyanyi korea yang ada padanya selalu membuat wanita menyukainya.
          Perasaan Valen terhadap lelaki itu tidak pernah hilang. Dia terus mencintai dan terus berusaha agar Vino menyukainya. Berbagai cara dilakukan oleh Valen. Sampai ia mendapat teguran dari para sahabatnya. Mungkin terlalu bersifat melebihkan realita yang terjadi. Dia terpaksa menjatuhkan semua buku yang ada di tangannya dengan maksud agar Vino melihatnya. Usaha tersebut berhasil mencuri perhatian Vino yang sedang berkonsentrasi pada gitarnya.
“Braakk..”. Suara buku berhamburan dilantai depan ruangan musik.
          Mendadak mata Vino yang sedang tertuju pada senar- senar gitar itu beralih pada wanita yang sedang sibuk untuk membereskan buku- buku yang berserakan dilantai. Dengan langkah tenang Vino menghampiri Valen.
“Lo Valen kan ? yang waktu itu pernah gue kasih kado valentine”. Tanya Vino dengan ragu-ragu kepada Valen.
“Iya, lo masih inget juga kalo waktu itu lo juga udah nyakitin gue ?”.
          Memang dulu sempat terjadi insiden di acara valentine yang diadakan disekolah untuk sekaligus sebagai peringatan hari ulang tahun sekolah. Malam itu Vino memberikan kado valentine kepada Valen dan itu ternyata membuat perasaan yang dialaminya semakin tergambar jelas bahwa Vino pasti menyukainya. Namun, tiba- tiba datang Dina menghampiri mereka sembari merangkul bahu Vino. Ternyata Dina kekasih Vino.
“Valen, gue mau ngasih ini ke elo “. Kata Vino sambil mengulurkan sebuah bingkisan kotak kecil berwarna pink dengan disertai bunga mawar disampingnya.
“O ohh..Ini buat gue ?”. Jawab Valen dengan gugup karena memang dia tidak menyangka Vino akan memberinya kado spesial valentine.
“Iya, ini khusus buat elo”. Ujar Vino tapi tiba-tiba Dina datang dan mengacaukan semuanya. Sambil merangkul bahu Vino, Dina berkata
“Hai sayang kenapa kamu ada disini ? nggak seharusnya kita itu ada disini. Lebih baik kita menikmati makan malam disana bersama mereka”. Kata Dina sembari mengajak paksa Vino untuk melangkah bersamanya menuju meja makan.
          Ini sebenarnya berbeda sekali dengan perasaan Vino yang sesungguhnya. Dia tidak mencintai wanita itu dengan sepenuh hati. Dia hanya terpaksa untuk mencintai dan menjalin cinta dengannya karena ini akibat ulah kedua orang tua Vino yang sepakat dengan Dina. Hal ini tentu saja menyiksa batin dan perasaan Vino. Sampai pada akhirnya dia divonis oleh dokter mengidap penyakit leukemia. Itu merupakan sebuah penyakit yang menyerang bagian sel sel darah merahnya.
          Sebenarnya sejak pertama dia memberi kado spesial valentine itu kepada Valen, dia sudah mulai merasakan ada cinta dihatinya. Namun, apa daya dia tidak bisa mengungkapkan perasaanya itu kepada Valen karena dia menyadari ada Dina disisinya. Memang sangat rumit dinamika cinta yang sedang melanda hidupnya itu. Sel sel kanker yang sekarang singgah di tubuhnya itu semakin hari kian semakin memaksa sel darah merahnya menghilang. Dia sadar jika suatu saatnya nanti tiba dia tidak mungkin bisa memberi tahu bahwa dia mencintai Valen. Kebingungan akan perasaan cinta segitiga ini membuat kondisinya semakin buruk.
“Gue nggak boleh nyerah seperti ini, Valen harus ngerti kalo sebenernya gue suka sama dia”.
          Waktu pun terus berjalan hingga pada suatu hari tiba yaitu saat dimana diadakannya sebuah pentas seni disekolah. Di acara itu Vino berusaha untuk menyampaikan isi hatinya melalui sebuah lagu yang ia nyanyikan setelah sekumpulan grub band sekolahnya itu tampil dan mengisi hiburan dengan berbagai musik dan lagu mereka. Syair lagu tersebut tercipta disaat dia sedang meratapi kebingungannya. Mengisahkan kisah cintanya kepada seseorang yang sangat sulit untuk disampaikan. Terinspirasi dari si kutu buku yang menganggapnya bak pangeran impiannya itu. Sepenggal syairnya seperti ini,

Dengarkan isi hatiku yang memanggil jiwamu
Mencoba terus bertahan dalam sebuah pilihan
Namun aku tak bisa jika kau harus tahu
Sungguh tersiksa bagai perih menusuk batinku

          Disaat alunan gitar yang mengiringi suara merdu Vino dan jemarinya yang terus bermain lincah dengan senar- senar gitarnya itu dia mencuri sebuah pandangan dari Valen. Akan tetapi wanita tersebut tidak sampai pengetahuannya pada apa yang dimaksud olehnya. Yang tertangkap oleh wanita tersebut adalah bahwa lagu yang dibawakan pangeran impiannya itu indah. Memang sangat rumit jika dibayangkan dengan akal sehat. Sungguh perasaan cinta segitiga yang membingungkan. Tidak tahu satu sama lain.
          Jam sudah berganti hari. Tak ada lagi suara indah milik Vino. Tak ada juga pandangan mata mempesona darinya. Sekarang hanya ada sebuah kenangan akan hal itu.         Pagi ini suasana sekolah tampak sepi. Hal ini sangat dirasakan oleh Valen yang sedari tadi dia tidak melihat adanya tanda- tanda keberadaan Vino. Hingga akhirnya hari ini dia tidak melalui sesuatu yang biasa dia lakukan yaitu mengintai pangeran impiannya itu. Ada wajah murung terlukis di sana. Tidak sedikit pun perasaan riang seperti halnya ketika Vino sedang berada di ruang musik seperti biasanya. Vino memang sangat menyukai tempat itu. Entah atas dasar alasan apa sehingga dia begitu sangat menyukai ruangan itu dan memilihnya sebagai tempat favorit untuk berdiam diri.     
          Tak terasa sudah satu pekan waktu yang berlalu. Kini tampak lagi pangeran impiannya itu di ruangan musik seperti biasanya. Ini membuat hati Valen sangat gembira dan membuatnya seolah kembali dengan segala sesuatu yang dapat membuat semangat hidupnya tumbuh. Namun, ketika dia merasa acara mengintainya itu diketahui oleh Vino, dia mencoba untuk menghindar. Ternyata Vino lebih cepat datang dan telah menangkap basah perilaku Valen tersebut.
“Eh, itu anu mm… gue barusan aja keruang guru terus … “. Belum sempat Valen melanjutkan kata- katanya yang kemudian dipotong oleh Vino.
“Ciyyee.. ketauan kan sekarang kalo lo sering ngintipin gue. Hmm.. kalo lo pengen main musik sama gue, nggak usah deh pake acara ngintip segala. Emang gue maling yang perlu diintai ?”. Cetus Vino dengan perasaan senang karena ternyata dibelakangnya Valen selalu memperhatikan sikapnya.
“Emm.. enggak kok. Ih siapa juga yang perhatiin elo, Ge-er amat “. Timpal Valen karena tidak mau semua perasaannya itu terbongkar.
“Hahahaa…. “.
          Hanya ada gelak tawa dari Vino. Ini hampir terlihat seperti sebuah perasaan yang meluap. Tergambar dengan sangat jelas diwajah Vino ada sepucuk kebahagiaan terpancar disana. Bahkan Valen pun tak tahu berapa lama lagi dia dapat memendam perasaan itu kepada Vino.
          Siang ini, sekolah tampak masih sangat ramai tidak seperti biasanya dikarenakan adanya sebuah pertandingan yang rutin diadakan disekolah yaitu pertandingan basket antar kelas. Valen terpaksa tidak pergi untuk meninggalkan sekolah karena kali ini kelasnya yang akan bertanding.
“Huh.. kenapa nggak boleh pulang ? padahal banyak tugas yang musti gue selesaikan malam ini”. Umpat Valen dalam hati karena memang jadwal tugasnya yang padat.
          Pertandingan terasa sangat membosankan bagi Valen. Dipikirannya dia hanya ingin pulang pulang dan pulang. Dia tidak sama sekali memperhatikan bagaimana jalan dan alur pertandingan tersebut. Pertandingan pun berakhir dengan sebuah tembakan yang bagus. Semua anak bersorak sorai karena kali ini kelas Valen yang menjadi pemenangnya. Namun, lain halnya dengan Valen, dia hanya tetap pada posisinya diam dan memasang wajah cuek. Akan tetapi, sebuah insiden terjadi di akhir pertandingan itu. Dimana seorang pemain basket tadi datang menghampiri Valen. Seluruh perhatian tertuju sepenuhnya pada mereka berdua. Ternyata, sebelum bertanding Roy telah membuat kesepakatan dengan Tio sebagai lawan mainnya itu. Mereka berdua sama- sama menyukai Valen. Jadi, mereka memutuskan untuk menyelesaikan konflik mereka lewat sebuah pertandingan basket. Sehingga sekarang Roy lah yang berhasil memenangkannya.
          Dengan raut wajah yang sangat gembira, Roy datang melangkahkan kakinya menuju tempat dimana Valen berada. Saat itu Valen sedang duduk diam. Kemudian dia berdiri tepat disamping Valen dan berusaha mengumumkan sebuah pemberitahuan kepada semua orang yang saat itu ada disana.
“Hai, guys sesuai perjanjian sekarang gue lah yang berhak untuk jadi pacar Valen”. Seru Roy dengan suara lantang sembari memegang tangan Valen dan akan mencoba untuk menciumnya.
          Secara tiba- tiba Valen menarik dengan kasar tangannya tersebut. Dia seketika marah karena memang dia tidak tahu menahu tentang semua perjanjian ini.
“Nggak usah ngaco ya ! “. Bentak Valen seakan- akan dia sudah tidak peduli lagi terhadap semua mata yang tertuju pada dirinya.
“Ayolah Valen, elo nggak usah berpura-pura seperti elo nggak tahu semua ini “. Kata Roy terus mencoba meyakinkan Valen.
“Memang gue gak pernah tahu akan perjanjian busuk lo ini !”. Balas Valen yang kemudian mencoba untuk beralih dari tempat itu.
          Namun,dengan cepat Roy meraih tangan Valen dan menggenggamnya erat- erat sehingga membuat Valen kesakitan dan tidak bisa melepaskannya. Valen terus mencoba untuk melepaskan genggaman Roy ditangannya itu. Tiba-tiba ada sebuah bola yang terlempar tepat mengenai kepala Roy. Dan itu bola dari Vino.
“Hey, boy jangan seenaknya elo nyakitin perempuan “.
“Masa bodoh dengan ucapan elo barusan ! peduli apa elo itu? “.
          Dengan langkah cepat Vino yang berada disudut kursi tempat dimana Valen dan Roy berada ,menghampiri mereka berdua. Suasana menjadi agak tegang. Semua mata yang memandang sedikit melukiskan kekhawatirannya akan apa yang akan terjadi berikutnya.
“Valen itu pacar gue”. Bisik Vino ditelinga Roy.
          Kemudian diraihnya tangan Valen dan membawanya pergi dari tempat itu. Valen hanya terdiam tidak bisa membayangkan apa ini benar- benar terjadi didalam kehidupannya.

TO BE CONTINUE

Tidak ada komentar:

Posting Komentar