Jumat, 22 Maret 2013

Cerpen Remaja

-->
Kejutan Kecil Dari Pacar
(cerpen karangan Nurbaiti H)



                Wajahku tampak sangat ceria hari ini. Semua keceriaan itu serasa dibalut sebuah bingkai yang penuh dengan pernak- pernik hiasan dari plastisin. Mungkin sang pelukis tidak dapat melukiskan suasana hatiku saat ini, tapi lain halnya dengan penyair. Dia mungkin bisa mengekspresikan suasana hati yang sedang mengoyak sukmaku ini.
            Orang lain pantas beranggapan bahwa aku lebay. Akan tetapi aku dan dia tidak akan mungkin menganggapnya sebagai lelucon belaka. Malam ini, aku merasakan sebuah perasaan yang cukup membuatku terngiang akan peristiwa beberapa jam yang lalu. Peristiwa yang patut membuatku bahagia tapi tidak untuk orang lain.
            Ingatanku memaksaku untuk kembali ke waktu beberapa jam yang lalu. Dimana merupakan waktu yang sudah tercatat sebagai sejarah dalam hidupku. Aku seolah merespon baik dengan hal ini, maka kembalilah ingatanku ke waktu beberapa jam yang lalu.
            Saat itu, tepatnya pada pagi hari aku sudah bersiap untuk sebuah acara yang familiar bagi para remaja yaitu nge-date. Oleh karena itu, aku tidak akan menyia-nyiakan waktu untuk tidak memoles diriku sebaik mungkin. Akan tetapi aku terheran karena belum ada signal dari si dia untuk menyatakan kesanggupannya. Aku tak sadar akan hal ini. Bunyi handphone membuatku menghentikan aktifitas memolesku sejenak. Terbaca olehku sebuah pesan seperti ini,
Sayang, cuacanya nggak mendukung buat kita jalan hari ini.
                Seketika itu, kuhentikan total kegiatan memolesku dan seketika itu juga wajah ceriaku berubah menjadi wajah murung dan sedih. Tanpa basa- basi langsung aku menelfonnya.
“Beneran tah nggak jadi jalan hari ini, ay ?”. Tanyaku.
“Cuacanya yang nggak mendukung, sayang. Lagi pula motor juga di pake sama ayah”. Jawabnya.
“Ih ! kok kamu nggak ngomong dari tadi pagi  sih ! kalo gini ceritanya, kan sia-sia aku dandan secantik ini!”. Sungutku.
“Maaf sayang, bukan aku nggak mau menepati janji, tapi kondisi yang nggak mendukung acara kita hari ini.Mungkin memang aku yang salah nggak kasih kamu info sebelumnya”. Ujarnya.
“Hmm..Sudahlah”. Kataku dengan nada marah.
            Kututup telfon itu. Aku merasakan hatiku kesal sekali. Saat itu juga banyak argumen  melintas perlahan di otakku. Dia jahat, dia bohong, dia menyebalkan. Sikapku mendapat respon dari kakakku. Ternyata dia sudah memperhatikanku sejak pertama aku memulai aktifitas memolesku itu. Kulihat ada sedikit senyum yang didalamnya terdapat sedikit makna ejekan.


“Kenapa? Marah sama pacarmu ?”. Tanya dia kepadaku.
            Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirku. Hanya sikapku yang menjawabnya. Tidur menghadap tembok dengan sesekali terdengar suara isak tangis yang tidak begitu menyedihkan.
“Hahaha.. Bisa marah juga sama pacarmu itu ? Kasian deh yang nggak jadi jalan- jalan”. Ejeknya.
            Tak kudengarkan celotehannya yang terus mengejekku itu. Sikapku masih sama seperti tadi. Hingga aku merasakan tak terdengar lagi suara ejekan dan tawa dari kakakku. Bahkan perasaan kesal di hatiku pun seperti hilang. Tangisanku reda. Aku tertidur.
            Suara ketukan pintu yang sepertinya bukan hanya sekedar mengetuk lagi karena itu teramat keras telah membangunkanku dari tidurku. Samar- samar aku mendengar suara kakek memanggilku.
“Baiti ! bangun sudah sore! Apa kamu nggak mau mandi ?”.
            Sepertinya itu pendengaran ku yang salah. Yang kudengar kedua kalinya adalah,
“Baiti ! bangun ada Upan tuh cari kamu”.
            Perasaan kaget membuat rasa kantukku ini hilang, mata yang semula terpejam mendadak membelalak seperti orang yang sedang kebingungan. Masih dalam suasana bangun tidur aku langsung menemuinya. Raut wajahku masih sama seperti sebelum aku tertidur, murung akibat rencana nge-date yang gatot (gagal total ).
“Ngapain kamu kesini ?”. Tanyaku dengan lugas.
“Nggak apa- apa kok aku cuma mau kasih ini ke kamu”. Jawabnya singkat sembari memberiku sebuah kotak ukuran besar yang diluarnya terbungkus oleh kertas warna pink bergambar boneka panda.
            Sikapnya membuatku bingung aku tak mengerti apa maksudnya. Disamping itu juga proses pengumpulan nyawa setelah bangun tidurku belum sempurna. Jadi aku belum bisa menangkap maksud dan tujuannya tersebut.
“Ayo geh ay, dibuka kotaknya ! Masa nggak kamu buka ?”. Pintanya dengan nada buru- buru.
“Emm.. Sebentar, sebelumnya ada acara apa kamu kasih ini ke aku?”. Tanyaku ingin tahu.
“Yah.. anggap saja itu sebagai pengganti dari nge-date yang gagal tadi pagi.
            Sekarang baru aku mengerti apa maksudnya. Wajahku mulai memperlihatkan kepadanya bahwa dibibirku ada sedikit senyum terlukis. Aku berusaha membukanya dengan hati- hati. Karena aku tak ingin semua yang ada pada kotak itu berantakan. Kardus berukuran sedang terisolasi bagian atasnya. Kutarik lepas isolasi itu. Dan saat aku melihat apa isi didalamnya aku terkejut bukan karena sebuah kodok rawa hijau yang jelek tapi ada sebuah boneka pinguin besar berwarna hitam-putih dan sedikit orange di bagian lehernya. Perasaan yang ku alami saat itu ialah senang beribu- ribu senang daripada orang yang paling senang. Aku tak dapat mengucapkan kata apapun selain terharu dan menangis.
“Sudah sayang, jangan menangis seperti itu. Ini bukti bahwa aku sayang sama kamu, bukti bahwa aku nggak akan pernah mencoba untuk tidak menepati janjiku sendiri “. Tegasnya.
TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar