Kejutan Kecil Dari Pacar
(cerpen karangan Nurbaiti H)
Wajahku tampak sangat ceria hari
ini. Semua keceriaan itu serasa dibalut sebuah bingkai yang penuh dengan
pernak- pernik hiasan dari plastisin. Mungkin sang pelukis tidak dapat
melukiskan suasana hatiku saat ini, tapi lain halnya dengan penyair. Dia
mungkin bisa mengekspresikan suasana hati yang sedang mengoyak sukmaku ini.
Orang lain pantas beranggapan bahwa
aku lebay. Akan tetapi aku dan dia
tidak akan mungkin menganggapnya sebagai lelucon belaka. Malam ini, aku
merasakan sebuah perasaan yang cukup membuatku terngiang akan peristiwa
beberapa jam yang lalu. Peristiwa yang patut membuatku bahagia tapi tidak untuk
orang lain.
Ingatanku memaksaku untuk kembali ke
waktu beberapa jam yang lalu. Dimana merupakan waktu yang sudah tercatat
sebagai sejarah dalam hidupku. Aku seolah merespon baik dengan hal ini, maka
kembalilah ingatanku ke waktu beberapa jam yang lalu.
Saat itu, tepatnya pada pagi hari
aku sudah bersiap untuk sebuah acara yang familiar bagi para remaja yaitu nge-date. Oleh karena itu, aku tidak akan
menyia-nyiakan waktu untuk tidak memoles diriku sebaik mungkin. Akan tetapi aku
terheran karena belum ada signal dari si dia untuk menyatakan kesanggupannya.
Aku tak sadar akan hal ini. Bunyi handphone membuatku menghentikan aktifitas
memolesku sejenak. Terbaca olehku sebuah pesan seperti ini,
Sayang, cuacanya nggak mendukung buat kita
jalan hari ini.
Seketika itu, kuhentikan total
kegiatan memolesku dan seketika itu juga wajah ceriaku berubah menjadi wajah
murung dan sedih. Tanpa basa- basi langsung aku menelfonnya.
“Beneran
tah nggak jadi jalan hari ini, ay ?”. Tanyaku.
“Cuacanya
yang nggak mendukung, sayang. Lagi pula motor juga di pake sama ayah”.
Jawabnya.
“Ih !
kok kamu nggak ngomong dari tadi pagi
sih ! kalo gini ceritanya, kan sia-sia aku dandan secantik ini!”.
Sungutku.
“Maaf
sayang, bukan aku nggak mau menepati janji, tapi kondisi yang nggak mendukung
acara kita hari ini.Mungkin memang aku yang salah nggak kasih kamu info
sebelumnya”. Ujarnya.
“Hmm..Sudahlah”.
Kataku dengan nada marah.
Kututup telfon itu. Aku merasakan
hatiku kesal sekali. Saat itu juga banyak argumen melintas perlahan di otakku. Dia jahat, dia
bohong, dia menyebalkan. Sikapku mendapat respon dari kakakku. Ternyata dia sudah
memperhatikanku sejak pertama aku memulai aktifitas memolesku itu. Kulihat ada
sedikit senyum yang didalamnya terdapat sedikit makna ejekan.
“Kenapa?
Marah sama pacarmu ?”. Tanya dia kepadaku.
Tak ada sepatah kata pun yang keluar
dari bibirku. Hanya sikapku yang menjawabnya. Tidur menghadap tembok dengan
sesekali terdengar suara isak tangis yang tidak begitu menyedihkan.
“Hahaha..
Bisa marah juga sama pacarmu itu ? Kasian deh yang nggak jadi jalan- jalan”.
Ejeknya.
Tak kudengarkan celotehannya yang
terus mengejekku itu. Sikapku masih sama seperti tadi. Hingga aku merasakan tak
terdengar lagi suara ejekan dan tawa dari kakakku. Bahkan perasaan kesal di
hatiku pun seperti hilang. Tangisanku reda. Aku tertidur.
Suara ketukan pintu yang sepertinya
bukan hanya sekedar mengetuk lagi karena itu teramat keras telah membangunkanku
dari tidurku. Samar- samar aku mendengar suara kakek memanggilku.
“Baiti !
bangun sudah sore! Apa kamu nggak mau mandi ?”.
Sepertinya itu pendengaran ku yang
salah. Yang kudengar kedua kalinya adalah,
“Baiti !
bangun ada Upan tuh cari kamu”.
Perasaan kaget membuat rasa kantukku
ini hilang, mata yang semula terpejam mendadak membelalak seperti orang yang
sedang kebingungan. Masih dalam suasana bangun tidur aku langsung menemuinya.
Raut wajahku masih sama seperti sebelum aku tertidur, murung akibat rencana nge-date yang gatot (gagal total ).
“Ngapain
kamu kesini ?”. Tanyaku dengan lugas.
“Nggak
apa- apa kok aku cuma mau kasih ini ke kamu”. Jawabnya singkat sembari
memberiku sebuah kotak ukuran besar yang diluarnya terbungkus oleh kertas warna
pink bergambar boneka panda.
Sikapnya membuatku bingung aku tak
mengerti apa maksudnya. Disamping itu juga proses pengumpulan nyawa setelah bangun tidurku belum sempurna. Jadi aku
belum bisa menangkap maksud dan tujuannya tersebut.
“Ayo geh
ay, dibuka kotaknya ! Masa nggak kamu buka ?”. Pintanya dengan nada buru- buru.
“Emm..
Sebentar, sebelumnya ada acara apa kamu kasih ini ke aku?”. Tanyaku ingin tahu.
“Yah..
anggap saja itu sebagai pengganti dari nge-date
yang gagal tadi pagi.
Sekarang baru aku mengerti apa
maksudnya. Wajahku mulai memperlihatkan kepadanya bahwa dibibirku ada sedikit
senyum terlukis. Aku berusaha membukanya dengan hati- hati. Karena aku tak
ingin semua yang ada pada kotak itu berantakan. Kardus berukuran sedang
terisolasi bagian atasnya. Kutarik lepas isolasi itu. Dan saat aku melihat apa
isi didalamnya aku terkejut bukan karena sebuah kodok rawa hijau yang jelek
tapi ada sebuah boneka pinguin besar berwarna hitam-putih dan sedikit orange di
bagian lehernya. Perasaan yang ku alami saat itu ialah senang beribu- ribu
senang daripada orang yang paling senang. Aku tak dapat mengucapkan kata apapun
selain terharu dan menangis.
“Sudah
sayang, jangan menangis seperti itu. Ini bukti bahwa aku sayang sama kamu,
bukti bahwa aku nggak akan pernah mencoba untuk tidak menepati janjiku sendiri
“. Tegasnya.
TAMAT

Tidak ada komentar:
Posting Komentar