Kamis, 28 Maret 2013

Cerpen tentang cinta



Ku Ingin Cinta Membalut Mautku


          Hati yang teramat sakit membawa sikapnya yang berujung pada dua titik antara benar dan salah. Valen adalah seorang siswi teladan disekolahnya yang sangat suka membaca buku. Dia mencintai seseorang  tapi disisi lain orang yang dicintainya itu tidak mengetahui akan hal ini. Sungguh sakit yang teramat mendalam di hati Valen. Selama ini ia beranggapan bahwa Vino akan benar- benar menerima perasaan cinta darinya.
          Siang itu koridor sekolah terlihat sepi. Tidak banyak siswa yang berlalu lalang disana. Hanya ada satu orang wanita yang sedang berjalan dengan membawa setumpuk buku ditangannya. Ketika Valen sedang melewati sebuah ruangan musik tanpa sengaja ia melihat Vino berada disana. Vino adalah lelaki yang cukup populer dikalangan para wanita. Gayanya yang kasual membuat semua wanita terpesona. Rambut ala penyanyi korea yang ada padanya selalu membuat wanita menyukainya.
          Perasaan Valen terhadap lelaki itu tidak pernah hilang. Dia terus mencintai dan terus berusaha agar Vino menyukainya. Berbagai cara dilakukan oleh Valen. Sampai ia mendapat teguran dari para sahabatnya. Mungkin terlalu bersifat melebihkan realita yang terjadi. Dia terpaksa menjatuhkan semua buku yang ada di tangannya dengan maksud agar Vino melihatnya. Usaha tersebut berhasil mencuri perhatian Vino yang sedang berkonsentrasi pada gitarnya.
“Braakk..”. Suara buku berhamburan dilantai depan ruangan musik.
          Mendadak mata Vino yang sedang tertuju pada senar- senar gitar itu beralih pada wanita yang sedang sibuk untuk membereskan buku- buku yang berserakan dilantai. Dengan langkah tenang Vino menghampiri Valen.
“Lo Valen kan ? yang waktu itu pernah gue kasih kado valentine”. Tanya Vino dengan ragu-ragu kepada Valen.
“Iya, lo masih inget juga kalo waktu itu lo juga udah nyakitin gue ?”.
          Memang dulu sempat terjadi insiden di acara valentine yang diadakan disekolah untuk sekaligus sebagai peringatan hari ulang tahun sekolah. Malam itu Vino memberikan kado valentine kepada Valen dan itu ternyata membuat perasaan yang dialaminya semakin tergambar jelas bahwa Vino pasti menyukainya. Namun, tiba- tiba datang Dina menghampiri mereka sembari merangkul bahu Vino. Ternyata Dina kekasih Vino.
“Valen, gue mau ngasih ini ke elo “. Kata Vino sambil mengulurkan sebuah bingkisan kotak kecil berwarna pink dengan disertai bunga mawar disampingnya.
“O ohh..Ini buat gue ?”. Jawab Valen dengan gugup karena memang dia tidak menyangka Vino akan memberinya kado spesial valentine.
“Iya, ini khusus buat elo”. Ujar Vino tapi tiba-tiba Dina datang dan mengacaukan semuanya. Sambil merangkul bahu Vino, Dina berkata
“Hai sayang kenapa kamu ada disini ? nggak seharusnya kita itu ada disini. Lebih baik kita menikmati makan malam disana bersama mereka”. Kata Dina sembari mengajak paksa Vino untuk melangkah bersamanya menuju meja makan.
          Ini sebenarnya berbeda sekali dengan perasaan Vino yang sesungguhnya. Dia tidak mencintai wanita itu dengan sepenuh hati. Dia hanya terpaksa untuk mencintai dan menjalin cinta dengannya karena ini akibat ulah kedua orang tua Vino yang sepakat dengan Dina. Hal ini tentu saja menyiksa batin dan perasaan Vino. Sampai pada akhirnya dia divonis oleh dokter mengidap penyakit leukemia. Itu merupakan sebuah penyakit yang menyerang bagian sel sel darah merahnya.
          Sebenarnya sejak pertama dia memberi kado spesial valentine itu kepada Valen, dia sudah mulai merasakan ada cinta dihatinya. Namun, apa daya dia tidak bisa mengungkapkan perasaanya itu kepada Valen karena dia menyadari ada Dina disisinya. Memang sangat rumit dinamika cinta yang sedang melanda hidupnya itu. Sel sel kanker yang sekarang singgah di tubuhnya itu semakin hari kian semakin memaksa sel darah merahnya menghilang. Dia sadar jika suatu saatnya nanti tiba dia tidak mungkin bisa memberi tahu bahwa dia mencintai Valen. Kebingungan akan perasaan cinta segitiga ini membuat kondisinya semakin buruk.
“Gue nggak boleh nyerah seperti ini, Valen harus ngerti kalo sebenernya gue suka sama dia”.
          Waktu pun terus berjalan hingga pada suatu hari tiba yaitu saat dimana diadakannya sebuah pentas seni disekolah. Di acara itu Vino berusaha untuk menyampaikan isi hatinya melalui sebuah lagu yang ia nyanyikan setelah sekumpulan grub band sekolahnya itu tampil dan mengisi hiburan dengan berbagai musik dan lagu mereka. Syair lagu tersebut tercipta disaat dia sedang meratapi kebingungannya. Mengisahkan kisah cintanya kepada seseorang yang sangat sulit untuk disampaikan. Terinspirasi dari si kutu buku yang menganggapnya bak pangeran impiannya itu. Sepenggal syairnya seperti ini,

Dengarkan isi hatiku yang memanggil jiwamu
Mencoba terus bertahan dalam sebuah pilihan
Namun aku tak bisa jika kau harus tahu
Sungguh tersiksa bagai perih menusuk batinku

          Disaat alunan gitar yang mengiringi suara merdu Vino dan jemarinya yang terus bermain lincah dengan senar- senar gitarnya itu dia mencuri sebuah pandangan dari Valen. Akan tetapi wanita tersebut tidak sampai pengetahuannya pada apa yang dimaksud olehnya. Yang tertangkap oleh wanita tersebut adalah bahwa lagu yang dibawakan pangeran impiannya itu indah. Memang sangat rumit jika dibayangkan dengan akal sehat. Sungguh perasaan cinta segitiga yang membingungkan. Tidak tahu satu sama lain.
          Jam sudah berganti hari. Tak ada lagi suara indah milik Vino. Tak ada juga pandangan mata mempesona darinya. Sekarang hanya ada sebuah kenangan akan hal itu.         Pagi ini suasana sekolah tampak sepi. Hal ini sangat dirasakan oleh Valen yang sedari tadi dia tidak melihat adanya tanda- tanda keberadaan Vino. Hingga akhirnya hari ini dia tidak melalui sesuatu yang biasa dia lakukan yaitu mengintai pangeran impiannya itu. Ada wajah murung terlukis di sana. Tidak sedikit pun perasaan riang seperti halnya ketika Vino sedang berada di ruang musik seperti biasanya. Vino memang sangat menyukai tempat itu. Entah atas dasar alasan apa sehingga dia begitu sangat menyukai ruangan itu dan memilihnya sebagai tempat favorit untuk berdiam diri.     
          Tak terasa sudah satu pekan waktu yang berlalu. Kini tampak lagi pangeran impiannya itu di ruangan musik seperti biasanya. Ini membuat hati Valen sangat gembira dan membuatnya seolah kembali dengan segala sesuatu yang dapat membuat semangat hidupnya tumbuh. Namun, ketika dia merasa acara mengintainya itu diketahui oleh Vino, dia mencoba untuk menghindar. Ternyata Vino lebih cepat datang dan telah menangkap basah perilaku Valen tersebut.
“Eh, itu anu mm… gue barusan aja keruang guru terus … “. Belum sempat Valen melanjutkan kata- katanya yang kemudian dipotong oleh Vino.
“Ciyyee.. ketauan kan sekarang kalo lo sering ngintipin gue. Hmm.. kalo lo pengen main musik sama gue, nggak usah deh pake acara ngintip segala. Emang gue maling yang perlu diintai ?”. Cetus Vino dengan perasaan senang karena ternyata dibelakangnya Valen selalu memperhatikan sikapnya.
“Emm.. enggak kok. Ih siapa juga yang perhatiin elo, Ge-er amat “. Timpal Valen karena tidak mau semua perasaannya itu terbongkar.
“Hahahaa…. “.
          Hanya ada gelak tawa dari Vino. Ini hampir terlihat seperti sebuah perasaan yang meluap. Tergambar dengan sangat jelas diwajah Vino ada sepucuk kebahagiaan terpancar disana. Bahkan Valen pun tak tahu berapa lama lagi dia dapat memendam perasaan itu kepada Vino.
          Siang ini, sekolah tampak masih sangat ramai tidak seperti biasanya dikarenakan adanya sebuah pertandingan yang rutin diadakan disekolah yaitu pertandingan basket antar kelas. Valen terpaksa tidak pergi untuk meninggalkan sekolah karena kali ini kelasnya yang akan bertanding.
“Huh.. kenapa nggak boleh pulang ? padahal banyak tugas yang musti gue selesaikan malam ini”. Umpat Valen dalam hati karena memang jadwal tugasnya yang padat.
          Pertandingan terasa sangat membosankan bagi Valen. Dipikirannya dia hanya ingin pulang pulang dan pulang. Dia tidak sama sekali memperhatikan bagaimana jalan dan alur pertandingan tersebut. Pertandingan pun berakhir dengan sebuah tembakan yang bagus. Semua anak bersorak sorai karena kali ini kelas Valen yang menjadi pemenangnya. Namun, lain halnya dengan Valen, dia hanya tetap pada posisinya diam dan memasang wajah cuek. Akan tetapi, sebuah insiden terjadi di akhir pertandingan itu. Dimana seorang pemain basket tadi datang menghampiri Valen. Seluruh perhatian tertuju sepenuhnya pada mereka berdua. Ternyata, sebelum bertanding Roy telah membuat kesepakatan dengan Tio sebagai lawan mainnya itu. Mereka berdua sama- sama menyukai Valen. Jadi, mereka memutuskan untuk menyelesaikan konflik mereka lewat sebuah pertandingan basket. Sehingga sekarang Roy lah yang berhasil memenangkannya.
          Dengan raut wajah yang sangat gembira, Roy datang melangkahkan kakinya menuju tempat dimana Valen berada. Saat itu Valen sedang duduk diam. Kemudian dia berdiri tepat disamping Valen dan berusaha mengumumkan sebuah pemberitahuan kepada semua orang yang saat itu ada disana.
“Hai, guys sesuai perjanjian sekarang gue lah yang berhak untuk jadi pacar Valen”. Seru Roy dengan suara lantang sembari memegang tangan Valen dan akan mencoba untuk menciumnya.
          Secara tiba- tiba Valen menarik dengan kasar tangannya tersebut. Dia seketika marah karena memang dia tidak tahu menahu tentang semua perjanjian ini.
“Nggak usah ngaco ya ! “. Bentak Valen seakan- akan dia sudah tidak peduli lagi terhadap semua mata yang tertuju pada dirinya.
“Ayolah Valen, elo nggak usah berpura-pura seperti elo nggak tahu semua ini “. Kata Roy terus mencoba meyakinkan Valen.
“Memang gue gak pernah tahu akan perjanjian busuk lo ini !”. Balas Valen yang kemudian mencoba untuk beralih dari tempat itu.
          Namun,dengan cepat Roy meraih tangan Valen dan menggenggamnya erat- erat sehingga membuat Valen kesakitan dan tidak bisa melepaskannya. Valen terus mencoba untuk melepaskan genggaman Roy ditangannya itu. Tiba-tiba ada sebuah bola yang terlempar tepat mengenai kepala Roy. Dan itu bola dari Vino.
“Hey, boy jangan seenaknya elo nyakitin perempuan “.
“Masa bodoh dengan ucapan elo barusan ! peduli apa elo itu? “.
          Dengan langkah cepat Vino yang berada disudut kursi tempat dimana Valen dan Roy berada ,menghampiri mereka berdua. Suasana menjadi agak tegang. Semua mata yang memandang sedikit melukiskan kekhawatirannya akan apa yang akan terjadi berikutnya.
“Valen itu pacar gue”. Bisik Vino ditelinga Roy.
          Kemudian diraihnya tangan Valen dan membawanya pergi dari tempat itu. Valen hanya terdiam tidak bisa membayangkan apa ini benar- benar terjadi didalam kehidupannya.

TO BE CONTINUE

Jumat, 22 Maret 2013

cerpen masa lalu



Untuk Sebutir Takdir Kecil
(cerpen karangan Nurbaiti H)

          Masa lalu itu membuatku seolah tak mengerti dengan keadaan yang sebenarnya terjadi kini kepadaku. Menatap langit disekelilingku gelap, segelap akan bayangan masa laluku yang  sedang melintas mencoba  meracuni hati dan pikiranku. Dinginnya angin malam yang membelai lembut jemari tangan dan kakiku seolah merespon apa yang sedang terjadi padaku. Tubuh ini kaku, ibarat didalam bongkahan  es, hanya kedinginan sifat dan perasaan yang menggantung di ambang batas bayangan akan masa lalu itu. Aku tak yakin, jika semua ini nyata,tapi aku harus yakin karena ini nyata. Masih teringat jelas kata-katanya di benakku. Kata-kata yang dia ucapkan selama empat puluh Sembilan menit yang lalu.
“ah. Alangkah pusing aku dibuatnya!”.
          Aku mencoba bertanya pada diriku sendiri, apakah aku ini terlalu naïf untuk mengulang masa lalu yang kata orang itu mustahil ? hanya kesunyian yang menjawab. Aku tak mungkin menghapus semua kisah tentangnya.Namun, disisi lain aku malu dengan deretan foto-foto yang aku tata sendiri. Mereka seolah memancarkan wajah sedih dan kekecewaannya padaku. Tapi aku tak akan mungkin bisa melupakan masa lalu itu.
“Bisakah kamu mengulang masa lalu kita dulu? Aku harap kamu bisa. Karena aku yakin cuma kamu yang bisa merubah hidup ini”.
“Sorry, aku nggak bisa. Aku mungkin hanya bisa mengenangmu dan hanya sebatas semata-mata mengenang”.
“Ayolah, kita bisa”.
          Minuman itu membuatnya semakin melanturkan pembicaraan. Ini membuatku semakin bingung untuk menjawab semua perkataannya. Dia terus bercerita kepadaku tentang bagaimana besar dan tulusnya perasaannya padaku. Padahal harusnya kami tidak membicarakan ini.Awalnya saja sebagai pembuka baginya.
“Bisakah kamu menempatkanku di hatimu ? walau tidak seperti cintamu, tapi aku hanya ingin ada di hatimu”.
“Maaf, aku tetap tidak bisa”.
“Oke, jadi kamu sudah lupa akan masa lalu itu ? aku gak nyangka semudah itu kamu lupa. Bagi aku, ngelupain kamu begitu susah!”.
“Dari awal aku sudah bilang, itu hanya masa lalu belaka, jadi wajar lah kalau aku coba buat ngelupain itu. Aku ingin lebih baik dari masa lalu itu”.
          Perkataanku seperti tidak menembus kesadarannya akan realita yang sekarang terjadi padanya. Ini semua seperti ribuan burung berkicau,sangat kacau. Hal ini membuatku cukup bingung dan sama sekali tidak mengerti. Haruskah aku menghidupkan masa lalu itu ?. Aku butuh petunjuk untuk menghadapi ini dan mencari jalan keluar. Aku tidak ingin masa lalu itu terus bersamaku. Mungkin hanya niscaya Tuhan yang dapat merubahnya seperti dulu. Dalam benakku hanya ada ukiran namanya, akan tetapi tidak untuk cinta.Karena cintaku sudah milik orang lain yang kini bersamaku.
          Mencoba bertanya pada bintang malam yang mempunyai sinar paling terang di ufuk barat. Namun, sama seperti yang lain hanya kesunyian yang kutemukan. Tidak satupun petunjuk atau jalan keluar yang kutemui. Semua seolah tidak menunjukkan sarannya kepadaku. Mereka semua hanya menjadi saksi bisu ketika dia berbicara itu. Disaat seperti ini, yang aku harapkan adalah Tuhan mau mendengarkan curahan hatiku. Tidak mungkin aku ingin menyakiti kekasih sendiri demi masa lalu yang seharusnya berlalu dan musnah. Semua terasa egois dimana tidak satupun orang mengetahui apa yang sebenarnya hati kecilku ini rasakan. Hanya wajah murung, kesepian didalam kamarku, kesunyian tiap malam hari yang menemani saat-saat dimana dia datang.
          Tidak mungkin aku menyalahkan alam karena alam tidak salah, dia hanya melakonkan takdir yang telah berskenario. Disisi lain, aku iri dengan alam, mengapa harus alam yang melakonkan takdir ? kenapa tidak sesekali aku yang melakonkan dan alam yang menerima ? sungguh kebingungan ini begitu menjerat seluruh bagian rongga di otakku.
“Mungkin memang aku harus melupakan masa lalu itu dan mencatat sejarah baru yang nantinya akan menjadi masa lalu yang indah untukku”.
TAMAT

Cerpen Remaja

-->
Kejutan Kecil Dari Pacar
(cerpen karangan Nurbaiti H)



                Wajahku tampak sangat ceria hari ini. Semua keceriaan itu serasa dibalut sebuah bingkai yang penuh dengan pernak- pernik hiasan dari plastisin. Mungkin sang pelukis tidak dapat melukiskan suasana hatiku saat ini, tapi lain halnya dengan penyair. Dia mungkin bisa mengekspresikan suasana hati yang sedang mengoyak sukmaku ini.
            Orang lain pantas beranggapan bahwa aku lebay. Akan tetapi aku dan dia tidak akan mungkin menganggapnya sebagai lelucon belaka. Malam ini, aku merasakan sebuah perasaan yang cukup membuatku terngiang akan peristiwa beberapa jam yang lalu. Peristiwa yang patut membuatku bahagia tapi tidak untuk orang lain.
            Ingatanku memaksaku untuk kembali ke waktu beberapa jam yang lalu. Dimana merupakan waktu yang sudah tercatat sebagai sejarah dalam hidupku. Aku seolah merespon baik dengan hal ini, maka kembalilah ingatanku ke waktu beberapa jam yang lalu.
            Saat itu, tepatnya pada pagi hari aku sudah bersiap untuk sebuah acara yang familiar bagi para remaja yaitu nge-date. Oleh karena itu, aku tidak akan menyia-nyiakan waktu untuk tidak memoles diriku sebaik mungkin. Akan tetapi aku terheran karena belum ada signal dari si dia untuk menyatakan kesanggupannya. Aku tak sadar akan hal ini. Bunyi handphone membuatku menghentikan aktifitas memolesku sejenak. Terbaca olehku sebuah pesan seperti ini,
Sayang, cuacanya nggak mendukung buat kita jalan hari ini.
                Seketika itu, kuhentikan total kegiatan memolesku dan seketika itu juga wajah ceriaku berubah menjadi wajah murung dan sedih. Tanpa basa- basi langsung aku menelfonnya.
“Beneran tah nggak jadi jalan hari ini, ay ?”. Tanyaku.
“Cuacanya yang nggak mendukung, sayang. Lagi pula motor juga di pake sama ayah”. Jawabnya.
“Ih ! kok kamu nggak ngomong dari tadi pagi  sih ! kalo gini ceritanya, kan sia-sia aku dandan secantik ini!”. Sungutku.
“Maaf sayang, bukan aku nggak mau menepati janji, tapi kondisi yang nggak mendukung acara kita hari ini.Mungkin memang aku yang salah nggak kasih kamu info sebelumnya”. Ujarnya.
“Hmm..Sudahlah”. Kataku dengan nada marah.
            Kututup telfon itu. Aku merasakan hatiku kesal sekali. Saat itu juga banyak argumen  melintas perlahan di otakku. Dia jahat, dia bohong, dia menyebalkan. Sikapku mendapat respon dari kakakku. Ternyata dia sudah memperhatikanku sejak pertama aku memulai aktifitas memolesku itu. Kulihat ada sedikit senyum yang didalamnya terdapat sedikit makna ejekan.


“Kenapa? Marah sama pacarmu ?”. Tanya dia kepadaku.
            Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirku. Hanya sikapku yang menjawabnya. Tidur menghadap tembok dengan sesekali terdengar suara isak tangis yang tidak begitu menyedihkan.
“Hahaha.. Bisa marah juga sama pacarmu itu ? Kasian deh yang nggak jadi jalan- jalan”. Ejeknya.
            Tak kudengarkan celotehannya yang terus mengejekku itu. Sikapku masih sama seperti tadi. Hingga aku merasakan tak terdengar lagi suara ejekan dan tawa dari kakakku. Bahkan perasaan kesal di hatiku pun seperti hilang. Tangisanku reda. Aku tertidur.
            Suara ketukan pintu yang sepertinya bukan hanya sekedar mengetuk lagi karena itu teramat keras telah membangunkanku dari tidurku. Samar- samar aku mendengar suara kakek memanggilku.
“Baiti ! bangun sudah sore! Apa kamu nggak mau mandi ?”.
            Sepertinya itu pendengaran ku yang salah. Yang kudengar kedua kalinya adalah,
“Baiti ! bangun ada Upan tuh cari kamu”.
            Perasaan kaget membuat rasa kantukku ini hilang, mata yang semula terpejam mendadak membelalak seperti orang yang sedang kebingungan. Masih dalam suasana bangun tidur aku langsung menemuinya. Raut wajahku masih sama seperti sebelum aku tertidur, murung akibat rencana nge-date yang gatot (gagal total ).
“Ngapain kamu kesini ?”. Tanyaku dengan lugas.
“Nggak apa- apa kok aku cuma mau kasih ini ke kamu”. Jawabnya singkat sembari memberiku sebuah kotak ukuran besar yang diluarnya terbungkus oleh kertas warna pink bergambar boneka panda.
            Sikapnya membuatku bingung aku tak mengerti apa maksudnya. Disamping itu juga proses pengumpulan nyawa setelah bangun tidurku belum sempurna. Jadi aku belum bisa menangkap maksud dan tujuannya tersebut.
“Ayo geh ay, dibuka kotaknya ! Masa nggak kamu buka ?”. Pintanya dengan nada buru- buru.
“Emm.. Sebentar, sebelumnya ada acara apa kamu kasih ini ke aku?”. Tanyaku ingin tahu.
“Yah.. anggap saja itu sebagai pengganti dari nge-date yang gagal tadi pagi.
            Sekarang baru aku mengerti apa maksudnya. Wajahku mulai memperlihatkan kepadanya bahwa dibibirku ada sedikit senyum terlukis. Aku berusaha membukanya dengan hati- hati. Karena aku tak ingin semua yang ada pada kotak itu berantakan. Kardus berukuran sedang terisolasi bagian atasnya. Kutarik lepas isolasi itu. Dan saat aku melihat apa isi didalamnya aku terkejut bukan karena sebuah kodok rawa hijau yang jelek tapi ada sebuah boneka pinguin besar berwarna hitam-putih dan sedikit orange di bagian lehernya. Perasaan yang ku alami saat itu ialah senang beribu- ribu senang daripada orang yang paling senang. Aku tak dapat mengucapkan kata apapun selain terharu dan menangis.
“Sudah sayang, jangan menangis seperti itu. Ini bukti bahwa aku sayang sama kamu, bukti bahwa aku nggak akan pernah mencoba untuk tidak menepati janjiku sendiri “. Tegasnya.
TAMAT

Tuhan pun Tahu Jika Aku Rindu


Tuhan pun Tahu Jika Aku Rindu
(Cerpen karangan Nurbaiti H)

          Ingatanku tertuju pada sebuah surat kecil yang dipenuhi debu dan usang. Spontan aku teringat akan sesuatu yang terjadi tepat pada tanggal 31 Januari 2012 yang lalu. Kusempatkan aku membaca surat itu dan mencermati dengan penuh kesungguhan baris demi baris.Tulisan tangan yang tidak asing bagiku. Sejenak aku memaknai dengan haru dan ada kerinduan  mendalam yang tersirat dalam sanubari.
          Semua sudah terjadi dan itu tidak akan mungkin untuk kembali seperti sebelum dia mengenalnya yang pada akhirnya menikahinya. Kini Ibuku tidak akan kembali dan Ayahku juga tidak akan sama seperti dulu. Semua kebahagiaan serasa lenyap ditelan bumi bagai tak menyisakan sedikit pun padaku dan saudaraku. Terlebih pada adik kecilku. Banyak kusimpan perasaan kesal, marah dan perasaan ingin protes untuk membela ibuku. Namun itu semua hanya khayalan, karena yang terjadi kini adalah ayahku sudah menikahinya.
          Kedewasaan sifat sangat aku perlukan untuk menyikapi permasalahan ini. Aku tidak ingin tampak lemah dihadapan mereka. Aku sebagai anak ingin menunjukkan bahwa aku bisa merubah hidup menjadi lebih baik dan memutar seratus delapan puluh derajat keadaan sekarang ini. Aku hanya membutuhkan dorongan dan dukungan dari orang- orang terdekat untuk melakukan itu.
          Semua terasa begitu membuatku jera. Ingin sekali aku meluapkannya kepada dunia bahwa aku marah. Teramat pedih yang kurasakan sekarang ini setelah kepergian ibuku karena ayahku lebih memilihnya . keegoisan memang dapat membuat manusia lupa akan kebahagian yang terlebih dulu terukir.
“Tuhan, beri aku kekuatan untuk mengubah keadaanku dan keluargaku”.
          Sudah satu tahun aku tidak bersama ibuku. Dia pergi untuk memperbaiki kondisi rumah tangga yang berantakan ini. Disaat insiden kepergian ibuku itu, nenek dan kakek lah yang membantuku untuk terus memotivasi agar aku bisa membalik semua keadaan. Hari- hariku serasa hampa tanpa seorang ibu disisiku. Menaungi waktu tanpa amarah darinya ibarat berada di hutan paling menyeramkan. Aku tidak tahan dengan semua ini. Berbagai cara ku lakukan demi untuk sebuah kesenangan. Sekali pun aku tersenyum, itu hanya sebuah senyuman yang harus aku perlihatkan pada semua orang yang menunjukkan bahwa aku senang. Tapi tidak dengan keadaan hatiku yang sebenarnya, ini sangat menyakitkan dan perlahan membuatku stres.
          Beberapa bulan berlalu tanpa sedikit pun kabar dari ibuku. Itu membuatku semakin merana. Terkadang aku juga malu dengan takdir yang menimpaku jika ayahku sekarang mempunyai dua orang istri. Sampai saat itu tiba yaitu saat dimana aku membutuhkan ibu untuk sebuah pendaftaran masuk sekolah tingkat SLTA.

“Ibu belum kasih kabar, ya ?”.
“Belum dek, paling masih sibuk penyesuaian disana. Maklum kalo jadi TKI itu kan nggak boleh sembarangan musti hati- hati”.
“Iya aku tahu itu. Tapi bagaimana dengan sekolahku ? tanggal 26 Juni besok ada pendaftaran masuk SMA”.
“Oh, yasudah kan kamu sudah bisa daftar sendiri. Nanti personal biaya kamu bilang sama nenek”.
          Memang, Ibuku menjadi TKI di Taiwan. Semua biaya kehidupanku kini ditanggung oleh nenek. Dan terpaksa aku meminta bantuan kepada ibu tiriku untuk menemaniku melakukan pendaftaran. Aku memilih untuk mendaftar pada sekolah bonafit di daerahku. Sesungguhnya hal ini mendapat pertentangan oleh nenekku. Beliau beranggapan bahwa beliau tidak akan mungkin sanggup untuk membiayai sekolahku jika aku masuk pada SMA bonafit itu. Tapi aku menentang permintaan nenekku. Karena aku sangat menginginkan untuk dapat masuk di sekolah itu sedari dulu aku masih duduk dibangku SMP.
Ndok, kamu memang serius ingin sekolah disana ?”.
“Iya nek, aku ingin sekali sekolah disana. Dari dulu aku sudah membuat target bahwa aku harus bisa masuk SMA itu, makanya aku giat belajar agar aku dapat lolos tes dan menjadi siswa disana”.
“Oh, gitu tho ? ya sudah nggak usah sedih gitu. Iya nenek akan menuruti kemauan kamu. Tapi dengan satu syarat kamu harus janji sama nenek setelah kamu lolos tes dan sekolah disana, kamu harus sungguh-sungguh nggak boleh main- main sekolahnya”.
“Bener nek ? iya aku janji. Makasih banyak ya nek”.

          Lega rasanya hati menerima semua ini aku beranggapan bahwa masa depan cerah mulai terukir didepan mataku. Kesenanganku teramat lengkap lagi setelah pada akhirnya aku dapat lolos tes dan masuk sebagai siswa di SMA itu. Sedikit beban yang hilang dari pundakku. Secercah harapan banyak singgah untuk menemani hari-hariku. Terlebih setelah aku mengenal sosok lelaki yang menarik bagiku. Laki-laki itu adalah yang kini menjadi pacarku. Aku mengenalnya lewat sebuah insiden tabrakan didepan kelas pada saat aku menghadapi UAS untuk tingkat SMP.Waktu itu, aku kesal sekali degan sikap dia yang acuh tak acuh terhadapku.
“Maaf kak, tadi itu nggak sengaja aku tabrak kakak, aku buru- buru mau mengambil kartu ujianku di kantor karena kartu yang asli ketinggalan dirumah”.
          Tak ada balasan yang keluar dari mulut lelaki itu. Yang tampak olehnya adalah sikap sok cool yang membuatku sangat merasakan kesal dihati. Merasa tak dibalas, aku pun langsung kembali bergegas untuk menyelesaikan UAS. Sambil berjalan menuju ruang kelas aku terus mencerca lelaki itu.
“idih, sok cool banget si dia itu. Emang sih kakak kelas tapi jangan seenaknya gitu dong sama adik kelas. Mentang-mentang dia kakak kelas terus kalo disapa sama adik kelas pura-pura nggak tahu gitu !”.
“hmm.. yaelah, udahlah nggak usah pusing. Kamu kan anak beranda nih bay, cari aja tuh di facebook pasti ada. Namanya Yulvan Dana”.
“hidih males amat nyari tahu tentang dia yang ada nanti malah dicuekin untuk kedua kalinya”.
          UAS dapat kulalui dengan baik. Entah kenapa tiba-tiba perasaanku menyuruhku untuk cepat sampai dirumah membuka akun facebookku dan kemudian mencari namanya. Ternyata benar, itu semua kulakukan. Setelah aku tahu semua tentang dia lega hati ini karena aku hanya ingin sekedar tahu profil tentang kakak kelas sok cool itu.Namun, pernah dia ikut berkomentar disalah satu statusku dan pada saat itu lah ada perasaan senang menggugah hatiku. Itu membuatku semakin sering untuk membuka akun facebookku bahkan memaksaku untuk tetap always on pada akunku tersebut. Sampai suatu hari dia meminta nomor teleponku lewat kotak masuk facebook.
“Pagi dedek pinguin ?”.(akunku adalah pinguinnya beruangkutub dan aku sering dipanggil dengan sebutan pinguin).
“Pagi juga kak, ada apa pagi-pagi gini udah inbox aku ?”.
“hmm.. aku boleh minta nomor telepon dedek nggak ? biar bisa leluasa buat sms-an”.
“Oke kak, ini 082371520751”.
          Kalender di dinding kamarku terpampang jelas bulan, tanggal dan harinya. Saat itu kulihat tangal 21 Juni 2012. Seperti biasa aktifitas yang kulakukan hanya stand by di facebook karena bulan ini adalah bulan libur bagi anak-anak SMP yang baru mengikuti UN. Pagi hari tidak ada komentar dan sms dari kakak sok cool itu.
          Pada malam hari suasana terasa agak sedikit berubah. Dia menelfonku hingga larut malam dan pada saat jam dinding ku lihat, disana sedang menunjukkan pukul 11.45 dan dia mengatakan sesuatu padaku. Itu membuatku hampir tersedak roti keju yang sedang kumakan.
“kamu masih ngapain malam-malam begini dek ?”.
“masih nonton Tv kak sambil makan roti”.
“Oh.. iya, kakak mau ngomong sesuatu tapi dedek jangan marah ya ?”.
“Apa itu kak ?”.
“Kakak itu sayang banget sama dedek, jadi bisa nggak dedek ini jadi pacar kakak ?”.
          Waktu seakan berhenti sejenak memberiku menit demi menit untuk memberikan jawaban langsung kepadanya dimalam jum’at ini.
“Iya sudah deh kak.. kita coba dulu untuk menjalaninya”.
          Kudengar ada gelak tawa kesenangan dari dirinya. Itu terdengar jelas dan tergambar sangat jelas dari caranya yang mendadak grogi pada kata-kataku yang baru saja kuucapkan untuknya. Dan selama Sembilan bulan kemarin ini aku menjalin hubungan dengannya sebagai pasangan kekasih. Berkatnya hidupku seolah lahir kembali sebagai anak yang mempunyai banyak kasih sayang biarpun itu tidak kudapatkan dari ibuku.
          Masih pada permasalahanku yang awal yaitu kasus tentang keluargaku. Sekarang Ibuku sering memberi kabar lewat surat bahkan hampir sering melalui komunikasi telepon. Aku sangat senang sekali dengan  jalan hidupku sekarang. Semangatku kembali memupuk jiwa yang hilang. Semua semangat dan bayangan akan sukses begitu dekat dengan batas realita hidupku.Kini semua perasaan kembali pada titik awal. Aku mempunyai seseorang yang bisa terus dan selalu memberiku sebuah motivasi dukungan untuk menjadi baik.Semua rasa, perasaan dan rindu ibuku tercurah pada syair lagu milik wali ‘Doa untukmu sayang’.
          Satu pinta yang belum lama terucap dari ibuku, yaitu
“Teruslah berjuang dan selalu menjadi kebanggaan ibu. Doa ibu untukmu, sayang”.
TAMAT